Cetak Laba Rp 1,16 T, GOTO Siap Lanjutkan Buyback dan Batalkan Saham Treasuri

Karunia Putri
29 Oktober 2026, 18:43
GoTo
GoTo
Logo PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk atau GOTO (ilustrasi).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 1,16 triliun hingga kuartal ketiga 2026. Capaian tersebut membalikkan kerugian bersih Rp 755,55 miliar yang ditorehkan emiten teknologi itu pada periode yang sama tahun lalu.

Sejalan dengan itu, pendapatan bersih GOTO meningkat 24,45% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp 16,54 triliun dari Rp 13,29 triliun pada kuartal ketiga 2025. Kinerja tersebut dicapai perseroan di tengah penerapan batas komisi 8% pada layanan transportasi roda dua GoRide sejak 1 Juli 2026. Khusus pada kuartal ketiga tahun ini, GOTO membukukan laba bersih sebesar Rp 441 miliar.

Direktur Utama GoTo, Hans Patuwo menuturkan, perusahaan akan menaikkan target EBITDA grup yang disesuaikan (adjusted EBITDA) untuk 2026 menjadi Rp 3,5 triliun hingga Rp 3,7 triliun, dari target sebelumnya Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun.

“Hasil ini dicapai di tengah berbagai tantangan dalam beberapa bulan terakhir. Ini adalah kuartal penuh pertama sejak komisi 8% mulai diterapkan di layanan GoRide, dan dampaknya cukup signifikan,” ungkap Hans dalam keterangan resmi yang diterima pada Kamis (29/10).

Berdasarkan laporan kinerja perusahaan, EBITDA grup yang disesuaikan pada kuartal ketiga 2026 naik 84% secara tahunan menjadi Rp 950 miliar. Sementara itu, arus kas bebas grup yang disesuaikan meningkat 389% menjadi Rp 1,21 triliun.

Jumlah pengguna yang bertransaksi sepanjang tahun atau annual transacting users (ATU) juga tumbuh 16% YoY menjadi 72,5 juta pengguna. Adapun nilai transaksi bruto inti atau core gross transaction value (GTV) meningkat 89% YoY menjadi Rp 194 triliun.

GOTO menaikkan target EBITDA bisnis teknologi finansial (fintech) GoPay menjadi Rp 1,9 triliun hingga Rp 2 triliun dari sebelumnya Rp 1,7 triliun hingga Rp 1,8 triliun. Sementara itu, rentang target EBITDA bisnis layanan sesuai permintaan atau on demand services (ODS) yang mencakup Gojek diperlebar menjadi Rp 1,4 triliun hingga Rp 1,6 triliun, dari sebelumnya Rp 1,4 triliun hingga Rp 1,5 triliun.

Hans mengatakan, penyesuaian target tersebut mencerminkan kinerja GoPay yang terus melampaui ekspektasi serta pertumbuhan bisnis Gojek. Namun, perusahaan tetap memperhitungkan potensi perubahan regulasi, termasuk aturan pelaksanaan untuk layanan pengantaran dari Kementerian Komunikasi dan Digital.

“Target kinerja ini didasarkan pada estimasi awal perseroan dengan mempertimbangkan kondisi pasar saat ini dan tetap dipengaruhi oleh berbagai risiko, termasuk persaingan, kenaikan biaya, ketidakpastian makroekonomi, serta faktor lain di luar kendali perseroan,” ucap Hans.

Menyibak Kinerja Gojek dan GoPay

Di bisnis Gojek, jumlah pesanan yang diselesaikan pada kuartal ketiga 2026 tumbuh 9% YoY. Namun, GTV bisnis ODS hanya meningkat 1% menjadi Rp 16,9 triliun, seiring strategi perusahaan memperluas jangkauan ke segmen pasar massal yang memiliki nilai transaksi lebih rendah.

Pendapatan bersih bisnis ODS tercatat Rp 3,3 triliun, sedangkan EBITDA yang disesuaikan naik 3% menjadi Rp 347 miliar. Capaian tersebut diraih setelah GoRide menerapkan komisi 8% sesuai aturan pemerintah selama satu kuartal penuh.

Pada segmen mobilitas, jumlah pesanan tumbuh 10% secara tahunan. Namun, EBITDA yang disesuaikan turun 16% menjadi Rp 159 miliar, dengan margin menyusut 50 basis poin menjadi 2,5%.

GOTO mencatat dampak penerapan komisi 8% terhadap layanan GoRide mencapai Rp 150 miliar pada kuartal ketiga 2026. Nilai tersebut sejalan dengan estimasi dampak sepanjang tahun sebesar Rp 300 miliar yang disampaikan perusahaan pada Juli 2026. Kendati demikian, Hans menyatakan kinerja GoRide mulai membaik setelah mencatatkan EBITDA yang disesuaikan negatif pada Juli. 

Sementara itu, bisnis pengantaran mencatat pertumbuhan pesanan sebesar 7% secara tahunan. EBITDA yang disesuaikan meningkat 20% menjadi Rp 227 miliar, sedangkan marginnya naik 33 basis poin menjadi 2,1%. Pertumbuhan tersebut didorong oleh perluasan jangkauan produk untuk segmen pasar massal yang mendorong transaksi bernilai lebih kecil, tetapi dengan frekuensi lebih tinggi.

Dari bisnis fintech, jumlah pengguna aktif bertransaksi bulanan atau monthly transacting users (MTU) GoPay mencapai 30,4 juta, tumbuh 26% secara tahunan. Jumlah transaksi meningkat 86% menjadi 2,8 miliar, sedangkan GTV inti naik 96% menjadi Rp 187 triliun.

Pendapatan bersih GoPay tumbuh 49% secara tahunan menjadi Rp 2,3 triliun. Adapun EBITDA yang disesuaikan melonjak 304% menjadi Rp 550 miliar.

Pertumbuhan penggunaan layanan turut mendorong penyaluran pinjaman. Nilai buku pinjaman GOTO meningkat 51% secara tahunan menjadi Rp 12 triliun.

GOTO menyatakan telah memperketat penyaluran kredit kepada kelompok pengguna berisiko tinggi sejak kuartal kedua 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk membatasi penurunan kualitas kredit pada kuartal berikutnya.

Perusahaan juga menyatakan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pinjaman dengan memanfaatkan ekosistem pengguna yang telah dimilikinya. Tenor pinjaman yang pendek memungkinkan perusahaan menyesuaikan proses penilaian kelayakan kredit dengan lebih cepat ketika kondisi berubah.

Siapkan Pembatalan Saham Treasuri hingga Lanjutkan Buyback 

Di tengah perbaikan kinerja keuangan, GOTO juga menyiapkan langkah untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham melalui pembatalan saham treasuri dan pembelian kembali saham atau buyback.

Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) GOTO pada 14 Oktober 2026, pemegang saham menyetujui pembatalan 32 miliar saham treasuri atau setara sekitar 2,7% dari total saham beredar.

Pembatalan tersebut diperkirakan efektif dalam dua hingga tiga bulan setelah seluruh proses regulasi yang dipersyaratkan selesai. Seiring aksi tersebut, jumlah saham beredar akan berkurang sehingga meningkatkan proporsi kepemilikan pemegang saham yang tersisa.

Selain itu, Hans menyatakan GOTO terus melaksanakan program buyback. Sejak Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus batas minimum harga saham Rp 50 pada 28 September 2026, perusahaan telah membeli kembali 36 miliar saham dengan nilai Rp 985 miliar hingga 29 Oktober 2026.

Jumlah saham yang dibeli kembali tersebut setara hampir 3% dari total saham perseroan. GOTO masih memiliki alokasi dana Rp 2,5 triliun untuk melanjutkan buyback berdasarkan persetujuan yang berlaku hingga Juni 2027.

Hans menyatakan, perusahaan akan tetap berfokus pada disiplin operasional dan alokasi modal untuk menjaga kesehatan fundamental bisnis. "Kami akan terus menjaga fundamental bisnis tetap sehat. Dengan bisnis yang sehat, kami dapat terus tumbuh dan mendukung seluruh pihak dalam ekosistem kami, termasuk jutaan mitra driver," tuturnya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...