OJK Sebut IHSG Menuju Level 8.000 Didukung Saham Papan Tengah Bukan Hanya LQ45
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menuju level 8.000 menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-80 justru didorong oleh kinerja emiten papan tengah, bukan saham-saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45.
“Ini menarik, karena basis IHSG yang mencakup hampir seribu perusahaan terbuka mencerminkan kinerja yang menyeluruh dari semua perusahaan terbuka yang ada di bursa,” ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar di Gedung UGM Samator, Kamis (14/8).
Mahendra menjelaskan laju IHSG juga mencerminkan sentimen positif pasar terhadap kondisi makroekonomi dan perkembangan global. Menurutnya, meski ketidakpastian global belum sepenuhnya hilang, situasinya lebih baik dibandingkan tiga hingga empat bulan lalu.
Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua 2025 turut memperkuat keyakinan pasar terhadap ketahanan perekonomian nasional. Pertumbuhan tersebut merata di berbagai sektor, mulai dari investasi, ekspor-impor terutama impor barang modal, belanja modal pemerintah hingga meningkatnya kepercayaan konsumen dan produsen.
“Jadi kalau melihat perkembangan itu tentu kita berharap refleksi ini juga mencerminkan ke depannya kondisi IHSG yang lebih kondusif,” kata Mahendra.
Terkait saham pendorong IHSG yang berasal dari papan tengah, Mahendra menilai kenaikan ini berbasis fundamental, sehingga tidak mudah berubah. Meski ada pihak yang memanfaatkan fluktuasi harga untuk keuntungan jangka pendek, mayoritas perusahaan menunjukkan kinerja yang membaik, termasuk perusahaan menengah yang mungkin belum mencatat laba, tetapi trennya lebih positif dibanding sebelumnya.
Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi menyampaikan pada Rapat Bulanan Dewan Komisaris Bulanan OJK hingga semester pertama 2025, sebanyak 800 emiten telah menyampaikan laporan keuangan. Dari jumlah tersebut, 74% membukukan laba.
Jika dilihat dari kinerja, 53% emiten mencatat peningkatan dibanding semester pertama 2024. Secara agregat, laba bersih emiten tumbuh 21,20% secara tahunan. Peningkatan kinerja tersebut terutama datang dari sektor materi dasar, siklikal dan teknologi. Sebaliknya, sektor energi mengalami tekanan terbesar pada pendapatan dan profitabilitas akibat tren penurunan harga komoditas selama periode tersebut.
