Melek Finansial Bukan Cuma soal Menabung, Pahami Dasar-Dasar Literasi Keuangan
Pernahkah Anda bingung ke mana perginya uang setiap akhir bulan? Atau mungkin Anda saat ini sedang bingung membayar cicilan pinjaman online karena ternyata banyak kebutuhan lain yang juga mendesak?
Masalahnya sering kali bukan hanya pada jumlah uang yang dimiliki, tapi pada cara mengelolanya. Di sinilah pentingnya literasi keuangan.
Literasi keuangan mencakup kemampuan seseorang dalam memahami, mengelola, dan mengambil keputusan terkait keuangan pribadi. Orang yang melek finansial tidak hanya tahu cara menabung, tetapi juga mampu menyusun anggaran, merencanakan masa depan, dan melindungi diri dari risiko keuangan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks literasi keuangan di Indonesia mencapai 66,46%, sedangkan indeks inklusi keuangan 80,5% pada 2025. Ini artinya, akses masyarakat terhadap produk keuangan cukup tinggi, tetapi pemahaman terhadap penggunaannya masih belum optimal.
OJK melalui Strategi Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLKI) 2021–2025 menargetkan masyarakat Indonesia memiliki indeks literasi keuangan yang tinggi atau well literate. Masyarakat dihadapkan dapat memanfaatkan produk dan layanan jasa keuangan yang sesuai untuk mencapai kesejahteraan keuangan yang berkelanjutan.
OJK dalam SNLKI menetapkan 10 sasaran prioritas literasi keuangan, yaitu pelajar, mahasiswa dan pemuda, profesi tertentu, karyawan, petani dan nelayan, pekerja migran Indonesia (PMI) serta calon PMI, pelaku UMKM, penyandang disabilitas, masyarakat di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), perempuan atau ibu rumah tangga, serta komunitas.
Sementara itu, Monetary Authority of Singapore (MAS) melalui risetnya berjudul Quantitative Research on Financial Literacy Levels in Singapore (2005) mendefinisikan literasi keuangan sebagai kemampuan seseorang untuk menilai dengan tepat dan membuat keputusan yang efektif dalam mengelola keuangan. MAS juga membagi literasi keuangan ke dalam tiga tingkatan, yakni:
- Tingkat dasar (Tier I) → berkaitan dengan pengelolaan uang sehari-hari seperti menyusun anggaran, mengatur pengeluaran, menabung, serta memahami pinjaman dan kredit.
- Tingkat menengah (Tier II) → berfokus pada perencanaan keuangan jangka panjang, termasuk perencanaan pensiun.
- Tingkat lanjutan (Tier III) → mencakup pemahaman dan pengetahuan tentang investasi.
Berikut sejumlah prinsip atau dasar-dasar dalam mengelola keuangan:
- Sisihkan, Bukan Sisakan
Saat merencanakan keuangan, lebih baik menyisihkan dana sejak awal sesuai alokasi pos keuangan, dibandingkan hanya menyisakan dana di akhir. Kuncinya adalah disiplin dan konsisten.
Contoh: menyisihkan 20% pendapatan untuk tabungan/investasi, mengalokasikan uang jajan atau menyisihkan uang saku untuk membayar premi BPJS Kesehatan. - Berperilaku Hemat
Hidup hemat berarti mengurangi pengeluaran yang tidak terlalu penting sehingga dana bisa digunakan untuk kebutuhan prioritas atau masa depan. Gaya hidup hemat bisa membantu menyisihkan lebih banyak dana untuk ditabung dan diinvestasikan.
Contoh: membawa bekal agar uang jajan bisa ditabung, tidak membeli baju baru jika masih punya yang layak pakai. - Membuat Dana Darurat
Dana darurat adalah simpanan khusus di luar tabungan untuk menghadapi kondisi mendesak, seperti memperbaiki barang rusak, mengganti barang hilang, atau menopang kebutuhan saat kehilangan pekerjaan. Dana darurat sebaiknya ditempatkan di instrumen yang likuid seperti tabungan.
Manfaatnya: tidak bingung mencari uang saat darurat, kebutuhan mendesak bisa terpenuhi tanpa mengganggu investasi, serta memberikan ketenangan finansial. - Berinvestasi untuk Masa Depan
Investasi adalah menanamkan modal pada usaha atau instrumen keuangan untuk mendapatkan keuntungan. Investasi bisa dilakukan di sektor riil (perdagangan, properti) atau sektor keuangan (pasar modal).
Manfaat investasi di pasar modal:
- Dividen: bagian laba yang dibagikan perusahaan kepada pemegang saham
- Kupon: bunga berkala bagi pemilik obligasi
- Capital gain: keuntungan dari selisih harga jual dengan harga beli
Risiko investasi:
- Risiko pasar (fluktuasi ekonomi/indeks)
- Risiko gagal bayar (emiten tidak bisa memenuhi kewajiban)
- Risiko likuiditas (sulit menjual/mencairkan investasi)
Menabung dan berinvestasi, sama-sama menyisihkan uang untuk kebutuhan masa depan, tetapi memiliki perbedaan, sebagai berikut:
| Menabung | Berinvestasi |
| Menyisihkan dana untuk kebutuhan hidup dan dana likuid | Menyisihkan dana untuk memenuhikebutuhan di masa depan dan melindungi aset agar tidak tergerus inflasi |
| Menggunakan produk simpanan dibank (tabungan) | Menggunakan produk investasi di pasar modal (reksa dana, obligasi, saham, dll) |
| Manfaat berupa bunga/imbal hasil | Manfaat imbal hasil lebih tinggi daripada bunga dan tingkat inflasi |
| Risiko relatif kecil | Risiko sebanding dengan potensi keuntungan (high risk high return) |
| Cocok untuk kebutuhan dana likuid | Cocok untuk kebutuhan masa depan |
Sumber: OJK

