OJK: Anak Muda Perlu Financial Healing untuk Kelola Keuangan dengan Bijak

Image title
Oleh Tim Publikasi Katadata - Luky Maulana
14 November 2025, 20:46
Sesi Diskusi Financial Healing di Blok M, Jakarta, Jumat (14/11). Dok/Katadata/M Yana.
Katadata
Sesi Diskusi Financial Healing di Blok M, Jakarta, Jumat (14/11). Dok/Katadata/M Yana.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Gaya hidup konsumtif, trauma masa lalu, dan maraknya penipuan digital menjadikan hubungan generasi muda dengan uang seringkali jauh lebih rumit daripada sekedar hitung-hitungan angka. Karena itu, financial healing hadir sebagai cara untuk menata ulang konsep tersebut.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, menyatakan bahwa apa yang disebut financial healing ini jauh lebih dalam dari sekadar mengatur anggaran.

"Financial healing tidak hanya sekadar bagaimana kita menambal dompet yang bocor, tapi tentang menyembuhkan hubungan kita dengan uang dan juga tentang menumbuhkan rasa percaya diri, rasa cukup, dan rasa syukur," kata Friderica dalam acara Katadata Financial Healing di Jakarta, Jumat (14/11).

Menurutnya, konsep financial healing berpangkal dari mengubah pola pikir uang yang ada tidak pernah cukup menjadi bagaimana mengelola uang dengan lebih bijak.

Itu dimulai dengan keberanian untuk mengakui luka lama yang berkaitan dengan uang, mulai dari kecemasan, trauma ekonomi keluarga, hingga pola konsumsi impulsif. Namun, Friderica menegaskan bahwa trauma bukan akhir dari perjalanan.

"Trauma keuangan masa lalu tidak membuat mereka jatuh, tetapi justru membuat mereka belajar lebih keras," katanya, mengutip kisah-kisah tokoh sukses yang bangkit dari masa kecil yang sulit.

Pun begitu, menjadi pribadi yang melek finansial berarti mampu memahami nilai uang, mengatur prioritasnya dengan bijak, serta mempersiapkan masa depan dengan perencanaan matang. Sebab, kesehatan finansial kini sama pentingnya dengan kesehatan fisik dan mental.

Masalah Finansial Bagian dari Hidup

Saat membuka acara, Pemimpin Redaksi Katadata Yura Syahrul, menyebutkan bahwa masalah keuangan adalah problem lintas generasi dari muda sampai tua. Namun, tingkat literasi keuangan pada generasi muda masih terbilang rendah.

Yura mengutip data OJK yang menunjukkan tingkat literasi keuangan kelompok usia 17–25 tahun menempati posisi terendah walau mereka paling terhubung dengan layanan finansial digital. Adapun kelompok usia 26–35 tahun memiliki tingkat literasi keuangan tertinggi.

Menurut Yura, Katadata menghadirkan acara ini sebagai ruang refleksi sekaligus pemulihan. "Harapannya setelah acara ini, setidaknya kita semua punya semangat baru untuk menata masa depan secara finansial maupun mental," katanya.

Sesi Diskusi Financial Healing di Blok M, Jakarta, Jumat (14/11). Dok/Katadata/M Yana.
Sesi Diskusi Financial Healing di Blok M, Jakarta, Jumat (14/11). Dok/Katadata/M Yana. (Katadata)

Aliyah Natasha, Financial Educator dan Founder DNA Finance, menyampaikan generasi muda hidup di tengah siklus krisis ekonomi yang terus berulang. Menurutnya, peristiwa tersebut bisa ikut membentuk kesadaran generasi muda tentang pentingnya mengelola keuangan.

"Selama 10 tahun terakhir, kita mengalami begitu banyak krisis. Tidak semua disebut financial crisis, tapi semuanya mempengaruhi hidup kita," ujarnya.

Terlebih, dengan biaya hidup saat ini yang mahal, mesti diantisipasi dengan berinvestasi pada aset yang tepat. "Contoh emas. Setiap krisis, harga emas selalu naik. Dari 1994 yang hanya Rp25 ribu, sekarang di 2025 harga emas mencapai Rp2,3 juta. Bahkan dari Januari 2024 ke November 2025, emas naik Rp1,3 juta," tambahnya.

Aliyah menekankan bahwa investasi tidak harus dimulai dengan modal besar. "Yang penting, diversifikasi, karena hidup akan semakin mahal ke depan," katanya.

Pun begitu, bagi Aliyah, mengelola keuangan bukan berarti menolak sepenuhnya untuk “membeli” kesenangan. "Kita boleh punya hobi dan pengalaman. Tapi kita harus sadar bahwa besok hidup akan lebih mahal dari hari ini," ujarnya.

Literasi untuk Cegah Penipuan

Di tengah derasnya informasi dan digitalisasi, masalah finansial tidak hanya datang dari problem internal masing-masing orang. Siapa pun saat ini dihadapkan dengan risiko penipuan digital yang kian canggih.

Data Indonesia Anti-Scam Center per November 2025 menunjukkan kerugian masyarakat akibat berbagai modus penipuan telah mencapai Rp7,3 triliun, berasal dari lebih dari 323 ribu laporan masyarakat.

Setiap hari, Indonesia menerima 800–1.000 laporan, jauh lebih tinggi dibanding negara lain yang rata-rata hanya 150–200 laporan per hari. "Ini sangat mengerikan dan sekaligus memprihatinkan," ujar Friderica.

Ia menyebutkan beberapa modus paling dominan. Contohnya penipuan transaksi belanja online dengan lebih dari 58 ribu laporan, serta kerugian di atas Rp1 triliun.

Lalu, fake call yang merujuk modus ketika pelaku berpura-pura menjadi kerabat atau teman, membuat korban panik dan langsung mengirim uang. Ada pula penipuan investasi yang memanfaatkan tren generasi muda yang mulai berinvestasi, tetapi terjebak skema bodong.

Selain itu, penipuan lowongan kerja. Modusnya adalah menjebak korban dengan iming-iming pekerjaan mudah berpenghasilan besar, dengan lebih dari 19 ribu laporan. Belum lagi penipuan hadiah dan love scam dengan cara menyerang korban dengan pendekatan emosional.

Menurut Friderica, meningkatnya kasus penipuan disebabkan tingginya digitalisasi masyarakat yang tidak diimbangi literasi keuangan memadai. Banyak anak muda mengambil keputusan finansial “dalam hitungan detik”, mulai dari doom scrolling hingga impulse buying. Tak jarang mereka terjerat pinjol ilegal atau over-indebtedness (kebanyakan utang).

"Jangan sampai kita masuk ke jebakan-jebakan seperti itu," kata Friderica.

OJK, kata Friderica, memandang literasi keuangan sebagai bagian dari mandat perlindungan konsumen yang diatur dalam UU No. 21/2011 dan diperkuat UU No. 4/2023. Peran itu diwujudkan melalui pengawasan, edukasi, serta penindakan terhadap praktik yang merugikan masyarakat.

Menurutnya, pekerjaan ini tidak mudah. Tantangan literasi mencakup geografis Indonesia yang luas, keberagaman demografi, hingga kesenjangan antara tingkat inklusi dan literasi keuangan.

Berdasarkan survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025, indeks literasi berada di 66,46 persen, sementara inklusi mencapai 80,51 persen. Selisih yang lebar ini menunjukkan banyak masyarakat memiliki akses layanan keuangan, tetapi belum memahami risiko dan cara menggunakannya secara benar.

Melalui Program Gerakan Nasional Cerdas Keuangan, OJK menggelar gerakan kolaboratif dengan seluruh pelaku usaha jasa keuangan. Hingga Oktober 2024, program ini telah menjalankan 42.121 kegiatan edukasi yang menjangkau lebih dari 200 juta peserta atau viewers.

Friderica menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. OJK tidak bisa bekerja sendiri, melainkan harus menggandeng industri jasa keuangan, media, dan komunitas. Salah satu bentuk konkret adalah Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (Gernas CK).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Luky Maulana

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...