Ratu Belanda Maxima Soroti Maraknya Kasus Scam di Indonesia, Ini Sarannya

Agustiyanti
27 November 2025, 19:39
ratu maxima, scam, kesehatan keuangan
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/agr
Penasihat Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Kesehatan Finansial (UNSGSA) yang juga Ratu Maxima dari Kerajaan Belanda (tengah) didampingi Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar (kedua kanan).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ratu Belanda Maxima menyoroti maraknya modus penipuan keuangan secara digital di Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan mencatat, total kerugian masyarakat akibat penipuan keuangan sepanjang Januari-Oktober 2025 telah mencapai Rp 75 triliun.

“Sebanyak tujuh dari sepuluh orang Indonesia menghadapi percobaan penipuan digital setiap minggu, dan satu dari empat orang pernah kehilangan uang akibat penipuan,” kata Ratu Maxima dalam konferensi pers United Nations Secretary General’s Special Advocate for Financial Health and Indonesia Financial Services Authority di Jakarta, Kamis (27/11).

Menurut dia, ada beberapa hal penting yang dapat dicermati otoritas untuk memperkuat perlindungan masyarakat serta meningkatkan kewaspadaan publik terhadap aksi penipuan keuangan. Beberapa di antaranya adalah penggunaan digital ID, sistem pertukaran data serta program edukasi yang memberikan peringatan kepada masyarakat tentang modus penipuan terbaru.

Menurut Maxima, modus scam selalu berubah setiap hari. Oleh sebab itu, edukasi secara instan (real time) amatlah penting. Dia juga menyatakan sudah banyak negara yang menerapkan peringatan otomatis ketika seseorang akan melakukan pembayaran.

“Misalnya [ada peringatan] Hati-hati, ini modus penipuan terbaru. Itu terbukti efektif,” ujar Maxima.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Oktober 2025, total kerugian masyarakat akibat penipuan di sektor keuangan mencapai Rp 7,5 triliun sepanjang Januari–Oktober 2025.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan indeks literasi keuangan berada di angka 66,46%, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 80,51%.

Friderica mengungkapkan kasus scam semakin memprihatinkan. Salah satu modus yang paling banyak dilaporkan adalah penipuan transaksi belanja, dengan lebih dari 58 ribu laporan dan kerugian menembus Rp 1 triliun.

“Sehari, kita bisa menerima 800–1.000 laporan masyarakat yang terkena scam,” ujar Friderica dalam acara Financial Healing yang diselenggarakan Katadata di Jakarta, Jumat (14/11).

Modus lain yang marak adalah fake call. Menurutnya, banyak korban tertipu oleh pelaku yang menyamar sebagai kerabat atau mengaku mengalami kecelakaan, lalu meminta uang dalam kondisi yang membuat korban panik sehingga tidak sempat berpikir rasional.

“Karena panik, mereka langsung mentransfer sejumlah uang yang diminta,” kata Friderica.

Ia juga menyoroti meningkatnya kasus penipuan investasi. Tren investasi yang tengah digandrungi anak muda justru dimanfaatkan oleh pelaku untuk menawarkan investasi bodong.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...