Strategi Purbaya Taruh Rp 200 Triliun di Perbankan Belum Jitu Tekan Bunga Kredit
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menaruh dana pemerintah di perbankan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Namun ternyata langkah ini belum cukup untuk membuat perbankan menurunkan suku bunga kreditnya meski likuiditas melimpah.
“Kalau untuk dampak ke suku bunga dana (seperti deposito) sudah pasti ada. Tapi kalau suku bunga kredit ya lihat tadi fakta berbicara,” kata Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial (DKMP) Bank Indonesia (BI) Solikin M. Juhro dalam acara Taklimat Media di Gedung BI, Senin (22/12).
Tercatat meski BI sudah menurunkan suku bunga acuannya sebanyak 125 basis poin (bps) sepanjang 2025, namun penurunan suku bunga perbankan masih lambat. BI mencatat suku bunga kredit hanya turun sebesar 24 bps dari 9,20% pada awal 2025 menjadi sebesar 8,96% pada November 2025.
Solikin menjelaskan, pada dasarnya penempatan dana pemerintah di perbankan mampu membuat struktur dana di Himpunan Bank Milik Negara alias Himbara lebih fleksibel. Namun hal ini hanya mampu membuat bank lebih signifikan menurunkan suku bunga dana. BI mencatat suku bunga deposito satu bulan turun sebesar 67 bps dari 4,81% pada awal 2025 menjadi 4,14% pada November 2025.
Sementara itu, Purbaya mengatakan kebijakan penempatan kas negara di perbankan mampu menurunkan suku bunga deposito. Namun ia mengklaim, hal ini juga akan dialami oleh suku bunga kredit.
“Dampaknya telah terlihat dari penurunan signifikan suku bunga deposito, yang kami yakini akan segera diikuti suku bunga kredit lebih signifikan lagi,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Desember 2025, Kamis (18/12).
Purbaya menilai, penurunan suku bunga kredit nantinya dapat mendorong aktivitas bisnis yang lebih cost-efficient. Selain itu juga memperkuat transmisi penguatan likuiditas ke sektor riil.
Sebelumnya pemerintah sudah menempatkan dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun di Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Syariah Indonesia (BSI), dan Bank Tabungan Negara (BTN). Lalu setelahnya, Purbaya menambah hingga Rp 76 triliun di Bank Mandiri, BRI, BNI, dan Bank Jakarta.
