Mengapa QRIS Tap Tak Kunjung Bisa Digunakan di iPhone?

Image title
20 Februari 2026, 04:00
QRIS Tap, BI, QRIS
ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU
Pengunjung mencoba Qris Tap In & Out saat Festival Ekonomi dan Keuangan Digital (FEKDI) x Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2025 di Jakarta, Kamis (30/10/2025). Bank Indonesia meluncurkan QRIS Tap In & Out untuk lima moda transportasi di wilayah Jabodetabek yaitu KRL Commuter Line, Transjakarta, LRT Jakarta, LRT Jabodebek dan MRT guna memudahkan masyarakat dalam melakukan pembayaran secara digital tanpa harus memindai kode QR.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bank Indonesia telah meluncurkan layanan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) berbasis Near Field Communication (NFC) sejak pertengahan Maret 2025. Namun, pengguna iPhone masih harus bersabar karena fitur tersebut hingga kini baru bisa digunakan di ponsel sistem operasi android.

"Pengguna iPhone mohon bersabar untuk QRIS Tap. Karena memang hingga sekarang Apple itu belum membuka NFC fiturnya. Dia hanya buka untuk Apple Pay," ujar Deputi Gubernur BI dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (19/2). 

Meski demikian, menurut Filianingsih, pihak Apple Indonesia maupun kantor pusat Apple berjanji akan mendalami untuk melihat kemungkinan untuk membuka fitur NFC. "Seperti yang sudah mereka lakukan di Eropa," kata dia. 

Ia menjelaskan, pertumbuhan penggunaan QRIS Tap sejak diluncurkan cukup pesat, baik di sektor transportasi maupun merchant hotel dan restoran. "Hospitality area juga mulai menggunakan QRIS Tap. Kalau kita lihat sudah memproses lebih dari 475 ribu transaksi (Januari 2026) dan tumbuh sekitar 7,9% month to month," kata dia.

Nilai transaksi penggunaan QRIS Tap pada Januari 2026 juta meningkat 6,44% secara bulanan menjadi Rp 4,6 miliar. Ia mencatat, QRIS Tap rata-rata digunakan untuk transaksi Rp 5.000 pada penggunaan merchant transportasi. Sedangkan di sektor restoran, rata-ratanya mencapai Rp 70 ribu per transaksi. 

BI mencatat, transaksi menggunakan QRIS mencatatkan pertumbuhan paling tinggi di antara pembayaran digital lainnya, yakni mencapai 131,47% (yoy). Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, hal ini seiring meningkatnya jumlah pengguna dan merchant di berbagai daerah.

“Kinerja positif ini didukung oleh peningkatan jumlah pengguna dan merchant serta ekosistem ekonomi keuangan digital yang semakin meluas,” ujar Perry.

Perry juga mencatat, volume transaksi pembayaran digital pada Januari 2026 secara total mencapai 4,79 miliar transaksi atau tumbuh 39,65% secara tahunan (year-on-year/yoy). Menurut Perry, pertumbuhan tersebut didukung oleh semakin luasnya akseptasi pembayaran digital di berbagai sektor. 

Volume transaksi melalui aplikasi mobile banking tercatat tumbuh 10,00% (yoy), sedangkan transaksi internet banking meningkat 23,25% (yoy). 

Dari sisi infrastruktur, volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST mencapai 455 juta transaksi atau tumbuh 34,41% (yoy), dengan nilai transaksi sebesar Rp1.176 triliun pada Januari 2026.

 Sementara itu, transaksi nilai besar yang diproses melalui BI-RTGS tercatat sebanyak 0,86 juta transaksi atau tumbuh 7,60% (yoy), dengan nilai mencapai Rp19.555 triliun.

Perry menyampaikan, stabilitas infrastruktur tercermin dari kelancaran dan keandalan penyelenggaraan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (SPBI) serta sistem pembayaran industri sepanjang Januari 2026.  Kecukupan pasokan uang dalam jumlah dan kualitas yang memadai juga dinilainya tetap terjaga.

Struktur industri sistem pembayaran dinilai semakin sehat, ditandai dengan penguatan interkoneksi antar pelaku dan perluasan ekosistem Ekonomi Keuangan Digital (EKD).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...