Syarat Pinjaman Bank Lebih Longgar, Tapi Kredit Nganggur Masih Capai Rp 2.500 T
Bank Indonesia mencatat, fasilitas pinjaman yang belum digunakan atau undisbursed loan perbankan mencapai Rp 2.506,47 triliun pada Januari 2026. Kredit nganggur di perbankan ini masih tinggi meski BI melihat minat bank dalam menyalurkan pinjaman meningkat terlihat dari peryaratan yang lebih longgar.
"Pemanfaatan pembiayaan perbankan dapat terus ditingkatkan, terutama untuk mengoptimalkan undisbursed loan yang masih cukup besar, yaitu Rp 2.506,47 triliun atau 22,56% dari plafon kredit yang tersedia," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Jumat (20/12).
BI mencatat, penyaluran kredit perbankan hanya tumbuh 9,96% secara tahunan pada bulan pertama 2026. Angka ini naik tipis dibandingkan Desember 2025 yang tumbuh 9,69%.
Pertumbuhan kredit perbankan pada awal tahun ini jauh di bawah dana pihak ketiga yang mencapai 13,48%. Karena itu, Perry mencatat, kapasitas pembiayaan bank saat ini sangat memadai. Rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga atau AL/DPK juga mencapai 27,54%, di atas benchmark yang dianggap aman oleh otoritas sebesar 20%.
BI pun memperkirakan, penyaluran kredit akan tumbuh 8-12% pada tahun ini. Di sisi lain, BI juga mencatat,pertumbuhan uang primer (M0) pada Januari 2026 juga mencapai sebesar 11,0% secara tahunan, meski sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 11,4%.
Dari sisi komponen, pertumbuhan M0 dipengaruhi oleh tetap tingginya pertumbuhan uang kartal, seiring meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat.
Selain itu, faktor pendorong lainnya berasal dari meningkatnya operasi keuangan pemerintah sejalan dengan stimulus fiskal serta kebijakan ekspansi moneter.
Sementara itu, uang beredar dalam arti luas (M2) pada Desember 2025 tercatat tumbuh 9,6% (yoy), meningkat dibandingkan November 2025 yang tumbuh 8,3% (yoy). Menurut Perry, pertumbuhan M2 yang lebih tinggi tersebut dipengaruhi oleh ekspansi keuangan pemerintah dan peningkatan penyaluran kredit perbankan.
“Ke depan, pertumbuhan uang yang beredar akan terus dikelola melalui sinergi kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah guna mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Perry.
