Kemenko Akui Kenaikan Harga Minyak Bisa Tekan APBN, Butuh Rp 10,3 T per Barel
Meningkatnya tensi politik di kawasan Timur Tengah imbas perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat berdampak pada harga minyak dunia. Kenaikan diprediksi akan terus terjadi lantaran terganggunya rantai pasok minyak global.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan secara umum sebenarnya Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Hal itu lantaran Indonesia memiliki banyak alternatif sumber energi.
Selain itu produksi minyak dalam negeri menurut Susi masih bisa menutup kebutuhan untuk dalam negeri. Namun menurut Susi kondisi global bisa berdampak pada Indonesia lantaran adanya gangguan dalam rantai pasok dunia.
“Harga minyak ini sensitifitasnya sangat tinggi sehingga pemerintah akan terus memonitor ini. Kalau rantai pasok global terganggu ujung-ujungnya akan inflasi bahan baku industri tidak hanya minyak,” ujar Susi dalam diskusi di forum UOB Media Editor Circle, Senin (2/3).
Menurut Susi kenaikan harga minyak global akan berdampak pada kesiapan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Ia menyebut setiap kenaikan US$ 1 per barel harga minyak mentah (ICP) setara dengan penambahan APBN Rp 10,3 triliun. Adapun asumsi harga minyak per barel dalam APBN adalah US$ 70.
Di sisi lain Susi mengakui kenaikan harga minyak dunia juga akan memberi tambahan penerimaan negara bukan pajak atau PNBP dan ekspor migas Rp 3,6 triliun untuk setiap kenaikan US$ 1 ICP. Dengan begitu, ia mengatakan akan ada defisit yang ditanggung pemerintah sekitar Rp 6,7 triliun tiap kenaikan US$ 1 ICP harga minyak.
Susi mengatakan pemerintah akan melakukan langkah antisipasi dan terus memonitor dinamika global. Ia menyebut akan ada skema seperti pengetatan suku bunga yang disiapkan untuk menahan laju inflasi yang berpotensi meningkatkan harga bahan baku industri bila ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut.
Ia menyebut pemerintah akan sangat berhati-hati dalam menyiapkan kebijakan moneter agar dapat menekan terjadinya perlambatan ekonomi. Tekanan menurut dia juga bisa berdampak ke pasar saham karena investor akan memilih instrumen investasi safe haven seperti emas dan obligasi pemerintah
Sebelumnya Direktur Eksekutif Celios Center for Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan tutupnya Selat Hormuz dapat mengerek harga minyak ke rentang US$ 100-US$ 120 per barel. Kondisi diperburuk oleh ditolaknya pengajuan asuransi oleh berbagai kapal logistik yang melewati wilayah konflik.
"Situasi ini menyebabkan kesulitan importasi minyak bagi banyak negara," kata Bhima kepada Katadata.co.id, Minggu (1/3).
Indonesia sebagai importir bersih minyak akan merasakan dampak dari kenaikan harga. Menurut perhitungan Bhima, kenaikan harga minyak hingga US$ 100 - US$ 120 per barel dapat menaikkan belanja negara hingga Rp 515 triliun. Selain itu, kondisi geopolitik menyebabkan kekhawatiran flight to quality atau aksi investor berpindah aset ke yang lebih aman seperti emas. Hal ini dapat menyebabkan pelemahan rupiah yang semakin dalam.
"Pangan rentan terdampak, terutama yang sensitif terhadap fluktuasi kurs dan gangguan rantai impor, seperti kedelai, gandum, daging," kata Bhima.
Selain itu, inflasi impor (imported inflation) akibat kenaikan harga minyak dunia juga dapat menciptakan turunnya daya beli masyarakat.
