Minat Simpan Emas di Bank Bullion Melonjak di Tengah Gejolak Timur Tengah
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah mendorong lonjakan minat masyarakat menyimpan emas melalui layanan bank bullion.
Pemerintah mencatat jumlah nasabah dan volume emas yang tersimpan maupun digadaikan di bank bullion meningkat signifikan dalam setahun terakhir.
“Pada Februari tahun lalu jumlah nasabahnya sekitar 3,2 juta, sekarang sudah mencapai 5,7 juta. Jadi itu meningkat dengan pesat,” ujar Airlangga dalam acara peluncuran AKSI KLIK, Jumat (6/3).
Selain jumlah nasabah, nilai emas yang digadaikan melalui Pegadaian juga mengalami peningkatan signifikan. Ia menyebut total emas yang digadaikan kini mencapai 144,7 ton, naik dari sebelumnya sekitar 94 ton.
“Yang digadaikan di Pegadaian nilai emasnya meningkat menjadi 144,7 ton dari sebelumnya 94 ton,” ucapnya.
Emas sebagai Jaminan Pinjaman Capai 38,5 Ton
Airlangga juga mencatat peningkatan pada pemanfaatan emas sebagai jaminan pinjaman. Menurutnya, emas yang dimanfaatkan sebagai pinjaman saat ini mencapai sekitar 38,5 ton dengan nilai mencapai Rp 102 triliun.
Pertumbuhan serupa juga terjadi pada simpanan emas di Bank Syariah Indonesia (BSI). Hingga saat ini, total emas yang tersimpan di bank tersebut telah mencapai sekitar 22 ton.
Menurut Airlangga, meningkatnya minat masyarakat terhadap emas tidak lepas dari perannya sebagai safe haven di tengah ketidakpastian global, terutama akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah akibat serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Ia mencontohkan kenaikan harga emas global yang cukup tajam sejak peluncuran layanan bank bullion.
“Pada saat peluncuran bank bullion harga emas masih sekitar 3.000 dolar, sekarang sudah sekitar 5.000 dolar. Ini karena pengaruh perang, sehingga emas menjadi salah satu safe haven dalam situasi ketidakpastian,” katanya.
Airlangga menambahkan, meningkatnya minat terhadap emas juga menjadi perhatian otoritas keuangan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dalam hal ini, pemerintah bersama Bank Indonesia berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global.
“Salah satu PR bagi BI tentu menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Tentu capaian-capaian ini tidak lepas dari peran kementerian dan lembaga yang bekerja sama dengan BI dan Kemenko,” ujarnya.
