Rupiah Ditutup Melemah Tipis di Tengah Penguatan Dolar AS dan Ketegangan Global

Image title
13 April 2026, 16:10
Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Senin (19/1/2026). Nilai tukar rupiah bergerak melemah 68 poin atau 0,40 persen menjadi Rp16.955 per dolar AS dari sebelumnya
Katadata/Fauza Syahputra
Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Senin (19/1/2026). Nilai tukar rupiah bergerak melemah 68 poin atau 0,40 persen menjadi Rp16.955 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.887 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tipis pada perdagangan Senin sore, seiring penguatan indeks dolar AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik global.

Rupiah ditutup melemah 1 poin ke level Rp17.105 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat tertekan hingga 40 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.104 per dolar AS.

“Untuk perdagangan besok, rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah di kisaran Rp17.100 hingga Rp17.150,” ujar Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, Senin (13/4).

Ibrahim menjelaskan pergerakan rupiah di penutupan hari ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran setelah gagalnya perundingan damai.

Presiden AS Donald Trump menyatakan Angkatan Laut AS akan memulai blokade terhadap jalur maritim Iran, termasuk di Selat Hormuz. Langkah ini diambil setelah negosiasi intensif tidak menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang berlangsung.

Blokade tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga energi dan inflasi.

Data inflasi AS terbaru menunjukkan lonjakan signifikan, memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Dari dalam negeri, Asian Development Bank memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mencapai 5,2%, sedikit lebih tinggi dari realisasi tahun sebelumnya sebesar 5,1%, namun masih di bawah target pemerintah sebesar 5,4%.

Meski demikian, ADB mengingatkan bahwa risiko eksternal seperti ketegangan geopolitik dan fluktuasi harga energi tetap menjadi ancaman bagi stabilitas ekonomi nasional.

Selain itu, kebijakan moneter ketat di negara maju juga berpotensi memicu volatilitas aliran modal di pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

ADB juga menekankan pentingnya percepatan reformasi struktural, peningkatan produktivitas, serta optimalisasi fiskal untuk menjaga ketahanan ekonomi. Penguatan sektor manufaktur dinilai krusial dalam menciptakan lapangan kerja formal dan mendukung transformasi ekonomi yang lebih inklusif.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...