Konflik Geopolitik Buat Pelaku Usaha Hati-hati, Rupiah Melemah ke Rp 17.127

Image title
14 April 2026, 19:30
rupiah, dolar AS, Timur Tengah
Katadata/Fauza Syahputra
Petugas menunjukkan pecahan mata uang Rupiah dan Dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Senin (19/1/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Selasa sore (14/4). Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah dinamika global dan sikap hati-hati pelaku usaha domestik yang menahan ekspansi.

Menurut data Bloomberg, rupiah ditutup turun 22 poin ke level Rp17.127 per dolar AS dari posisi sebelumnya di Rp17.105.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi pelemahan ini. 

Dari sisi eksternal, sentimen pasar dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran. Munculnya peluang dialog antara kedua negara sempat meredakan kekhawatiran pasar.

“Tanda-tanda potensi dialog AS-Iran untuk mengakhiri perang mengurangi kekhawatiran tentang risiko pasokan,” ujarnya.

Meski demikian, situasi masih diliputi ketidakpastian setelah adanya ancaman lanjutan dari Iran serta belum tercapainya kesepakatan final dalam negosiasi.

Selain itu, sejumlah lembaga internasional mengingatkan adanya potensi guncangan besar di pasar energi global akibat gangguan distribusi.

Dunia Usaha Menahan Ekspansi

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh kondisi dunia usaha yang masih menahan ekspansi.

“Di tengah meningkatnya ketidakpastian global membuat dunia usaha dalam fase wait and see,” ujarnya.

Menurutnya, pelaku usaha kini lebih memilih fokus pada efisiensi dan optimalisasi operasional dibandingkan melakukan ekspansi besar.

Ia menambahkan, berbagai faktor seperti volatilitas harga energi, tekanan nilai tukar, hingga biaya pembiayaan yang tinggi turut memengaruhi keputusan investasi.

“Kondisi tersebut berdampak pada perhitungan risiko dan imbal hasil investasi,” ujarnya.

Meski penjualan masih cenderung stagnan dalam jangka pendek, Ibrahim melihat adanya potensi perbaikan pada paruh kedua tahun ini.

“Penjualan berpotensi membaik pada semester II/2026 apabila tidak terjadi eskalasi lanjutan konflik global,” kata dia.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...