Dampak Perang Iran, Bank Sentral Filipina Dorong Korporasi Lindungi Risiko Valas

Image title
20 April 2026, 11:43
valas, Filipina, Bank Sentral Filipina
Katadata/Fauza Syahputra
Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bank sentral Filipina atau Bangko Sentral ng Philippinas meminta agar perbankan di negaranya lebih aktif melakukan lindung nilai (hedging) terhadap eksposur nilai tukar asing (valas), seiring meningkatnya risiko akibat konflik di Timur Tengah, khususnya perang Iran.

Anggota dewan kebijakan moneter bank sentral Bangko, Walter Wassmer, mengatakan konflik Timur Tengah telah memperlihatkan kerentanan ekonomi Filipina terhadap guncangan geopolitik global.

Menurutnya, dampak perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel itu telah memicu kenaikan inflasi, pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari target, pelebaran defisit transaksi berjalan, hingga potensi terganggunya aliran remitansi dari luar negeri.

“Perang AS-Iran menjadi semacam uji ketahanan bagi fundamental makroekonomi dan sistem pasar keuangan kami,” ujar Wassmer dikutip dari Bloomberg, Senin (20/4).

Ia menjelaskan, lonjakan harga minyak, pelemahan peso, serta volatilitas imbal hasil global menjadi tantangan yang harus dihadapi dengan strategi yang tepat. 

Bank Sentral Jaga Stabilitas Pasar Keuangan

Bank sentral menginginkan agar pasar keuangan tetap berfungsi dengan baik, aliran dana tetap lancar, risiko suku bunga dapat dikelola, dan nilai tukar bisa menyesuaikan secara wajar tanpa gejolak berlebihan.

“Intinya, kami ingin setiap guncangan bisa dihargai dan dilindungi (hedged), bukan memicu kepanikan atau diperparah oleh sentimen negatif,” ujar Wassmer.

Wassmer juga mengatakan komitmen bank sentral terhadap sistem nilai tukar berbasis pasar tetap tidak berubah, meskipun tekanan dari lonjakan harga energi global meningkat.

Sebelumnya, peso Filipina sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS pada akhir Maret, sebelum akhirnya mulai pulih dalam beberapa waktu terakhir.

Meski demikian, Wassmer menekankan bahwa yang menjadi fokus utama otoritas moneter bukanlah menghilangkan volatilitas sepenuhnya, melainkan memastikan pergerakan nilai tukar tetap terjaga secara teratur.

“Ketika terjadi guncangan, kami ingin peso bergerak berdasarkan fundamental ekonomi dan arus dana, bukan karena kepanikan, misinformasi, atau kondisi pasar yang tipis,” ujarnya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...