Thailand Makin Ramah untuk Pembayaran dengan QRIS

Dini Hariyanti
Oleh Dini Hariyanti - Tim Publikasi Katadata
12 Mei 2026, 10:46
Wisatawan Indonesia sedang membayar minuman menggunakan QRIS di Thailand
Katadata/Yasmin
Wisatawan Indonesia sedang membayar minuman menggunakan QRIS di Thailand
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Belum lama ini, QRIS antarnegara resmi diluncurkan di Cina, setelah sebelumnya di Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, dan Korea Selatan. Khusus di Thailand sebagai pionir kerja sama, transaksi QRIS terpantau terus mengalami pertumbuhan.

Duta Besar RI untuk Thailand Hari Prabowo menjelaskan, masyarakat Thailand tak jauh berbeda dengan Indonesia dalam hal adopsi teknologi digital, termasuk perihal transaksi sistem pembayaran.

“Masyarakat Thailand juga sangat suka dengan mekanisme pembayaran digital, dan sistem pembayaran ini (QRIS) sudah tersebar luas di Thailand,” ujar Hari saat ditemui di sela-sela acara World of Coffee (WoC) Bangkok 2026, Kamis (7/5).

Tren penggunaan QRIS di Thailand menunjukkan pertumbuhan. Bank Indonesia mencatat, pada April 2026 volume transaksi mencapai sekitar 105 ribu transaksi dengan nilai nominal Rp29,9 miliar. Angka ini tumbuh 116 persen secara tahunan (year-on-year).

Adapun penggunaan QRIS di Thailand bertumpu kepada infrastruktur PromptPay. Sistem pembayaran QR ini merupakan yang paling dominan di Negeri Gajah Putih. Meski demikian, Bank Indonesia memastikan QRIS bisa digunakan secara luas di negara tersebut.

Saat ini tersedia lebih dari 9 juta titik penerimaan pembayaran QR yang mencakup sektor vital seperti pusat perbelanjaan, restoran, maupun UMKM. “QRIS bisa diterima di banyak tempat di Thailand. Potensi penggunaan pembayaran digital di Indonesia maupun Thailand ke depan masih besar,” ucap Hari.

Sejauh ini, Bank Indonesia terus mengikuti perkembangan di masing-masing negara yang bekerja sama dengan QRIS. Termasuk di Thailand, yang kini baru bekerja sama dengan satu sistem pembayaran, tak tertutup kemungkinan untuk membuka kemitraan dengan perusahaan sistem pembayaran lain.

“Kerja sama QRIS dengan PromptPay di Thailand akan terus kami evaluasi. Kalau ada peluang kerja sama dengan penyedia jasa sistem pembayaran lain, maka akan kami jajaki,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Singapura Widi Agustin.

Selain memperluas jaringan mitra, BI juga menempuh langkah taktis untuk memastikan masyarakat semakin akrab dengan kemudahan pembayaran lintas negara ini.

Guna mempercepat akuisisi dan penggunaan QRIS di Thailand misalnya, BI melakukan langkah strategis melalui edukasi dan sosialisasi di pintu masuk utama wisatawan, seperti bandara internasional. Strategi ini melibatkan kolaborasi dengan maskapai penerbangan dan ekosistem pariwisata untuk meningkatkan kesadaran pengguna.

Widi menilai, transaksi menggunakan QRIS di Thailand berpotensi terus tumbuh seiring meningkatnya kunjungan wisatawan Indonesia. Interoperabilitas sistem pembayaran seperti ini memungkinkan wisatawan melakukan transaksi hanya dengan memindai kode QR melalui aplikasi pembayaran domestik.

“Pekerjaan rumah kita adalah bagaimana supaya wisatawan Thailand juga mengoptimalkan penggunaan QRIS di Indonesia,” tuturnya.

Meningkatkan Pengguna dan Merchant QRIS

Bank sentral memastikan akan terus meningkatkan jumlah pengguna dan merchant QRIS. Selain memperdalam penetrasi di negara-negara yang sudah menjalin kerja sama seperti Thailand, BI juga membuka peluang untuk bekerja sama dengan sistem pembayaran internasional lainnya.

Upaya ini merupakan bagian dari visi besar ASEAN Payment Connectivity untuk menciptakan ekosistem keuangan regional yang lebih terintegrasi, efisien, dan inklusif. “Untuk ASEAN, kami akan coba lihat peluang dengan Filipina atau Vietnam ya. Kami pelajari dan lihat peluang kerja samanya,” ucap Widi.

Data BI per Februari 2026 mencatat, kerja sama dengan Thailand sejak Agustus 2022 membukukan 1,64 juta transaksi dengan nominal sebesar Rp656,27 miliar. Kerja sama dengan Malaysia yang dimulai pada Mei 2023 mencatat volume lebih besar 10,66 juta transaksi dengan nominal sebesar Rp2,75 triliun.

Sementara itu, QRIS antarnegara dengan Singapura yang diluncurkan pada November 2023 mengukir 554.510 transaksi dengan nominal sebesar Rp179,28 miliar. Untuk kerja sama terbaru dengan Jepang sejak Agustus 2025 menunjukkan perkembangan yang positif, yakni 5.088 transaksi dengan nominal sebesar Rp428,80 juta.

Mendorong Stabilitas Rupiah

Widi menjelaskan bahwa penggunaan QRIS antarnegara juga berkontribusi terhadap pengurangan ketergantungan terhadap mata uang dominan dan memperkuat stabilitas nilai tukar regional, termasuk Rupiah.

QRIS antarnegara menggunakan skema Local Currency Transaction (LCT), artinya penyelesaian transaksi dilakukan langsung menggunakan Rupiah dan Baht tanpa melalui konversi mata uang ketiga seperti Dolar AS (USD).

“QRIS antarnegara itu transaksinya langsung, ini bisa mengurangi permintaan terhadap mata uang dolar AS sehingga bisa buat rupiah semakin menguat,” ujar Widi.

Sementara itu, Hari berharap, kehadiran QRIS antarnegara dapat mempermudah serta memfasilitasi kebutuhan bisnis maupun wisata bagi negara-negara yang bekerja sama. Selain itu juga mendukung keamanan finansial dan stabilitas moneter.

“Adanya QRIS antarnegara ini berarti, misalnya, warga Thailand maupun warga asing yang menggunakan QRIS bisa langsung bertransaksi pakai mata uang lokal. Ini berdampak langsung bagi stabilitas moneter Indonesia juga,” kata Hari.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...