Cadangan Devisa RI Turun Jadi US$ 144,9 Miliar per Mei 2026
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 tercatat turun menjadi US$ 144,9 miliar. Angka cadangan devisa tersebut merupakan yang terendah sejak Desember 2024 ketika cadangan devisa mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah sebesar US$ 155,72 miliar.
Jika dibandingkan dengan posisi April 2026 sebesar US$ 146,2 miliar, cadangan devisa Mei 2026 turun US$ 1,3 miliar.
Dalam pernyataan resminya, Bank Indonesia (BI) menjelaskan penurunan cadangan devisa atau cadev tersebut terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah serta pembayaran utang luar negeri pemerintah.
“Perkembangan cadangan devisa Mei 2026 dipengaruhi penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah Bank Indonesia,” kata BI dalam keterangan resminya, Senin (8/6).
Meski demikian, Bank Indonesia (BI) menegaskan posisi cadangan devisa nasional masih berada pada level yang aman.
BI menilai level cadev saat ini masih cukup kuat. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut juga masih jauh di atas standar kecukupan internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor.
“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” lanjut BI.
Ke depan, BI optimistis ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga seiring masih derasnya aliran modal asing dan positifnya persepsi investor terhadap prospek ekonomi domestik.
Selain itu, imbal hasil investasi di Indonesia yang dinilai tetap menarik diyakini dapat menopang stabilitas sektor eksternal nasional di tengah gejolak global.
Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah guna menjaga stabilitas perekonomian dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
