Selain Naikkan BI Rate, BI Tingkatkan Insentif Investor Asing untuk Jaga Rupiah
Bank Indonesia (BI) tidak hanya menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate menjadi 5,50%, tetapi juga menyiapkan serangkaian langkah tambahan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya gejolak global. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, BI juga meningkatkan imbal hasil instrumen moneter dan pemberian sejumlah insentif bagi investor asing agar aliran modal masuk ke Indonesia semakin meningkat dan memperkuat rupiah.
“Di samping kenaikan BI-Rate menjadi 5,50%, Bank Indonesia juga menempuh langkah-langkah penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah dengan meningkatkan imbal hasil dan sejumlah insentif lain dalam operasi moneter bagi masuknya aliran investasi asing,” ujar Perry dalam pernyataan resmi, Selasa (9/6).
Salah satu langkah yang ditempuh BI adalah menaikkan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada seluruh tenor 6, 9, dan 12 bulan. Kebijakan tersebut dilakukan untuk meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing di pasar domestik sekaligus menjaga daya saing imbal hasil Indonesia dibanding negara lain.
Turunkan Tingkat Hedging Swap
Selain itu, BI juga memberikan insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging) bagi investor asing sebesar 10%. Perry menyatakan kebijakan ini bertujuan meningkatkan minat investor asing sekaligus mengompensasi kewajiban biaya yang selama ini ditanggung investor.
“Sebagaimana diketahui, selama ini Bank Indonesia memberikan fasilitas swap lindung nilai bagi masuknya investasi asing melalui bank-bank di Indonesia yang kemudian meneruskan kepada Bank Indonesia. Sementara itu, penentuan tingkat swap yang reguler tetap terus diberikan Bank Indonesia sesuai mekanisme pasar yang berlaku,” kata Perry.
Di sisi likuiditas, BI kembali membuka peluang lelang instrumen repurchase agreement (repo) untuk tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan bagi perbankan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan agar pertumbuhan Uang Primer (M0) tetap berada pada level dua digit.
“Perluasan fasilitas repo ini akan menjadi instrumen utama dalam pengelolaan likuiditas moneter dibandingkan dengan mekanisme lain, termasuk melalui pembelian surat berharga negara (SBN) dari pasar sekunder yang selama ini ditempuh Bank Indonesia,” kata Perry.
BI juga meningkatkan intensitas operasi moneter baik dalam rupiah maupun valuta asing. Penguatan operasi moneter rupiah dilakukan melalui pembukaan lelang SRBI dua kali dalam seminggu, sementara intervensi valuta asing diperkuat melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri.
