Chatib Basri Bongkar Alasan Rupiah Tembus Rp 18 Ribu per Dolar AS

Rahayu Subekti
9 Juni 2026, 16:03
Chatib Basri, rupiah, risiko fiskal
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/Spt.
Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menilai pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini tidak semata-mata disebabkan oleh konflik perang Iran dan Israel maupun gejolak geopolitik global.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menilai pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini tidak semata-mata disebabkan oleh konflik perang Iran dan Israel maupun gejolak geopolitik global. Ia menilai risiko fiskal memiliki pengaruh signifikan terhadap pergerakan nilai tukar rupiah

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada hari ini dibuka di level Rp 18.127 per dolar AS.

Chatib menyoroti pelemahan rupiah saat ini terjadi saat pertumbuhan ekonomi masih di level 5,61% secara tahunan pada kuartal I 2026. Sementara itu, inflasi juga terkendali dan relatif baik. Menurut Chatib, pelemahan rupiah saat ini lebih dipengaruhi oleh risiko fiskal.

"Hasilnya cukup menarik karena 23% dari pelemahan rupiah itu sebetulnya bisa dijelaskan oleh Credit Default Swap (CDS),” kata Chatib dalam acara Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa (9/6).

CDS merupakan instrumen yang sering digunakan investor untuk mengukur tingkat risiko suatu negara. Semakin tinggi CDS maka semakin besar pula persepsi risiko terhadap kemampuan pemerintah dalam mengelola fiskal dan memenuhi kewajiban utangnya.

Menurut Chatib, memburuknya indikator risiko fiskal bahkan sudah terjadi sebelum konflik Iran-Israel kembali memanas. Karena itu, ia menilai narasi yang menyebut pelemahan rupiah dipicu perang tidak sepenuhnya tepat.

"CDS itu mulai memburuk sebelum perang. Jadi, kalau kemudian dibilang bahwa penyebabnya adalah perang, that's not true," ujarnya.

Ia menyatakan sejumlah negara lain juga terdampak ketegangan geopolitik yang sama. Namun, depresiasi mata uang mereka tidak sedalam yang terjadi pada rupiah.

BI Kerek Suku Bunga Lagi

Sebagai respons atas pelemahan rupiah terhadap dolar AS, Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang diselenggarakan pada Selasa (9/6). Suku bunga deposit facility juga naik 25 bps menjadi 4,50%, sedangkan suku bunga lending facility naik sebesar 25 bps menjadi 6,25%.

“Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah” ujar Perry dalam keterangan resmi, Kamis (9/6). 

Ia menjelaskan, keputusan ini juga merupakan langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah.

Pada Mei 2026, BI telah menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%. Kenaikan ini menjadi penyesuaian kedua setelah BI mempertahankan suku bunga di level 4,75% sejak September 2025.

Menurut Perry, kebijakan tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan imbal hasil instrumen keuangan domestik sehingga dapat menarik kembali aliran masuk investasi portofolio asing ke Indonesia.

Ia menjelaskan, BI menggelar RDG Mingguan setiap hari Selasa untuk mengevaluasi pelaksanaan bauran kebijakan yang telah ditetapkan dalam RDG Bulanan. Hal ini sesuai Undang-undang dan praktik yang selama ini berjalan. 

Dalam evaluasi sejak RDG Bulanan pada 19-20 Mei 2026, BI mencermati nilai tukar rupiah bergerak lebih lemah dari perkiraan sebelumnya. Pelemahan tersebut dipengaruhi berlanjutnya gejolak global, tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri, serta keluarnya aliran investasi portofolio asing dari pasar keuangan domestik.

“Bank Indonesia memandang perlu untuk menemph langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing,” kata Perry. 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...