Yen Sentuh Level Terlemah Sejak 1986, Pasar Pantau Intervensi Pemerintah Jepang
Nilai tukar yen Jepang melemah ke level terendah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak 1986. Hal ini memicu kekhawatiran di pasar dan meningkatkan spekulasi bahwa pemerintah Jepang akan kembali melakukan intervensi untuk menahan pelemahan mata uang tersebut.
Dalam perdagangan di New York, yen sempat menembus level 161,95 yen per dolar AS, melampaui titik terendah yang dicapai pada Juli 2024 saat pemerintah melakukan intervensi di pasar valuta asing. Pelemahan berlanjut hingga 162,40 yen per dolar AS pada perdagangan di Tokyo, Selasa (30/6), meski pemerintah telah mengeluarkan peringatan verbal kepada pelaku pasar.
Terakhir kali yen berada di level ini adalah pada 1986. Namun, saat itu mata uang Jepang justru sedang menguat tajam dalam reli panjang yang dipicu oleh kesepakatan nilai tukar yang diprakarsai Amerika Serikat. Kondisi dunia saat itu sangat berbeda, seperti gelembung aset Jepang masih mulai terbentuk, dan Uni Soviet masih menangani dampak bencana nuklir Chernobyl.
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara dan Menteri Keuangan Satsuki Katayama menyatakan pemerintah terus mencermati pergerakan pasar. Namun, pernyataan tersebut belum mampu menghentikan tekanan terhadap yen.
Menurut laporan Bloomberg, Analis valas Nomura Securities Yujiro Goto mengatakan perhatian pasar kini tertuju pada kemungkinan pemerintah Jepang benar-benar melakukan intervensi.
"Fokus pasar hari ini adalah apakah otoritas Jepang akan melakukan intervensi secara langsung atau hanya memperkuat peringatan verbal," ujarnya.
Tekanan terhadap yen juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Jepang yang mengimpor hampir seluruh kebutuhan energinya sangat rentan terhadap kenaikan harga minyak akibat konflik di kawasan tersebut.
Selain itu, persoalan struktural seperti populasi yang menua, pertumbuhan ekonomi yang lemah, serta tingginya utang pemerintah juga membatasi ruang Bank of Japan untuk menaikkan suku bunga secara agresif.
Berbagai Langkah Kebijakan BOJ
Pelemahan yen terjadi meskipun Bank of Japan (BOJ) telah mengakhiri kebijakan suku bunga negatif pada 2024 dan pada 16 Juni lalu menaikkan suku bunga acuan menjadi 1%, level tertinggi sejak 1995.
Namun, langkah tersebut belum cukup untuk memperkuat yen karena investor memperkirakan Federal Reserve masih akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Selisih suku bunga yang lebar antara Jepang dan Amerika Serikat mendorong investor meminjam dana dalam yen yang berbunga rendah untuk diinvestasikan pada aset berimbal hasil lebih tinggi di luar negeri. Arus modal keluar tersebut terus menekan nilai tukar yen.
Di sisi lain, pelemahan yen memberikan dampak yang berbeda bagi perekonomian Jepang. Mata uang yang lebih lemah meningkatkan daya saing eksportir dan mendorong pasar saham Jepang mencetak rekor tertinggi. Namun, biaya impor, terutama minyak dan gas yang dibayar dalam dolar AS, ikut meningkat sehingga memperbesar tekanan inflasi terhadap rumah tangga.
Kenaikan harga pangan, energi, dan kebutuhan pokok lainnya juga berpotensi mengurangi dukungan publik terhadap pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi.
Sebelumnya, pemerintah Jepang telah menggelontorkan 11,73 triliun yen atau sekitar US$ 72,4 miliar untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing sepanjang 28 April hingga 27 Mei, setelah yen pertama kali menembus level 160 per dolar AS.
Dana tersebut diduga berasal dari penjualan sebagian aset cadangan devisa, termasuk obligasi pemerintah AS. Meski demikian, intervensi tersebut hanya mampu memberikan efek sementara sebelum yen kembali melanjutkan tren pelemahannya.
Menteri Keuangan Satsuki Katayama sebelumnya menegaskan pemerintah siap mengambil "langkah tegas" apabila terjadi pergerakan spekulatif yang berlebihan di pasar valuta asing. Ia juga menyatakan Jepang dan Amerika Serikat memiliki pandangan yang semakin sejalan terkait kebijakan nilai tukar setelah bertemu Menteri Keuangan AS Scott Bessent.
Analis Bloomberg memperkirakan perhatian pelaku pasar kini akan beralih ke kisaran 164-165 yen per dolar AS. Jika pelemahan yen berlanjut menuju level tersebut, peluang pemerintah Jepang kembali melakukan intervensi diperkirakan semakin besar.
