Dolar Terlalu Berisiko, Bank-bank Sentral Beralih ke Euro, Renminbi hingga Emas

Hari Widowati
1 Juli 2026, 17:45
dolar, bank sentral, emas
Vecteezy.com/Bigc Studio
Bank-bank sentral semakin meninggalkan dolar AS di tengah tensi geopolitik yang meningkat. Mereka menjadikan euro, renminbi, hingga emas sebagai alternatif investasinya.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Survei Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) menunjukkan lebih banyak bank sentral dunia yang berencana mengurangi kepemilikan dolar Amerika Serikat (AS) mereka daripada meningkatkannya selama dekade berikutnya. Hal ini mencerminkan peningkatan risiko politik yang terkait dengan mata uang AS.

Temuan ini muncul di tengah perang Timur Tengah yang sebagian dimulai oleh Amerika Serikat (AS). Perang yang mengacaukan pasar energi global dan kebijakan tarif perdagangan Presiden AS Donald Trump menunjukkan agenda kebijakan luar negeri AS yang semakin tidak dapat diprediksi.

OMFIF, sebuah kelompok riset independen yang berkantor pusat di London, melaksanakan survei terhadap 74 bank sentral di seluruh dunia pada periode Maret hingga Mei 2026. Ini adalah pertama kalinya survei tersebut menemukan keinginan bank sentral untuk mengurangi alokasi dolar AS melebihi niat untuk meningkatkannya sejak survei tersebut dimulai pada tahun 2023.

Temuan ini merupakan indikasi terbaru dari pergeseran global menjauh dari dolar (dedolarisasi) yang mencakup pengurangan penggunaan dolar AS dalam perdagangan global dan transaksi keuangan. Dedolarisasi akan mengurangi permintaan terhadap mata uang tersebut dan nilainya. Menurut JPMorgan, pangsa dolar AS dalam cadangan devisa bank sentral turun ke level terendah dalam dua dekade terakhir.

“Tahun ini, geopolitik telah melampaui lingkungan politik AS dalam menghambat investasi pada dolar, yang mencerminkan peran AS dalam meningkatkan risiko geopolitik,” kata OMFIF dalam laporan yang dirilis Selasa (30/6), seperti dikutip CNN.

Namun, laporan tersebut mencatat dolar masih mendominasi portofolio bank sentral dan diperkirakan akan tetap demikian untuk masa mendatang. "Dolar tetap berada di sekitar 58% dari alokasi bank sentral selama lima tahun terakhir," kata Kepala Peneliti OMFIF Andrea Correa, kepada CNN.

Meskipun demikian, dedolarisasi yang “bertahap” membuat bank sentral beralih ke euro dan renminbi. Hampir semua bank sentral yang disurvei berpendapat renminbi memberikan diversifikasi.

Adapun dua pertiga responden mengatakan euro menjadi lebih menarik untuk digunakan dalam perdagangan global, naik dari 43% tahun lalu. Sebanyak 29% responden menunjukkan keinginan untuk meningkatkan kepemilikan euro dalam jangka panjang, naik dari 22% tahun lalu.

"Utang internasional dalam denominasi euro mencapai rekor tertinggi pada tahun 2025 dan euro menjadi mata uang utama dalam obligasi hijau," kata Karsten Stroborn, Direktur Jenderal Pasar di bank sentral Jerman, dalam laporan tersebut.

Permintaan akan mata uang alternatif, termasuk dolar Singapura, won Korea Selatan, dan rand Afrika Selatan, juga meningkat.

Permintaan Investasi Emas Meningkat

Sementara itu, meningkatnya risiko geopolitik mendorong peningkatan permintaan emas. Sebagian besar bank sentral menyatakan berencana untuk meningkatkan investasi dalam emas, meskipun harganya telah melonjak lebih dari 20% dibandingkan tahun lalu.

Pergeseran ini didorong oleh perlindungan terhadap risiko geopolitik dan meningkatnya keraguan tentang stabilitas sistem moneter internasional.

Menurut Strobon, emas telah menjadi pusat strategi untuk mengelola aset negara. Sekitar 51% bank sentral menyebutkan emas menjadi lindung nilai (hedging) terhadap risiko geopolitik, naik 11% dibandingkan dengan hasil survei tahun 2024.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...