Rupiah Awal Pekan Ini Kembali Melemah, Data Ekonomi AS jadi Penentu

Image title
6 Juli 2026, 09:32
Petugas menghitung uang rupiah di gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (18/5/2026). Nilai tukar rupiah rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 0,46 persen menjadi Rp18.049 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.966 per dolar AS.
Katadata/Fauza Syahputra
Petugas menghitung uang rupiah di gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (18/5/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah pada perdagangan awal pekan ini Senin (6/7) dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Merujuk data Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 17.997 per dolar AS melemah 0,17% atau 31 poin.

Pantauan Katadata, hingga pukul 09.15 rupiah tetap stabil berada di level Rp 17.996 per dolar AS melemah tipis 0,18% atau 33 poin. Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup menguat menguat 44 poin ke level Rp 17.945 per dolar AS dalam perdagangan Jumat (3/7/2026).

Nilai tukar rupiah diproyeksikan berpotensi kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Penguatan kembali mata uang Negeri Paman Sam diperkirakan menjadi sentimen utama di tengah sikap pelaku pasar yang menunggu sejumlah data ekonomi penting dari AS maupun Indonesia.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, mengatakan rupiah diperkirakan berbalik melemah seiring rebound yang terjadi pada dolar AS.

"Rupiah diperkirakan berpotensi berbalik melemah oleh dolar AS yang rebound. Investor menantikan beberapa data ekonomi penting seperti ISM Services AS yang secara tradisi kuat, dan cadangan devisa Indonesia yang dikhawatirkan akan kembali menurun," ujar Lukman.

Ia memperkirakan pergerakan rupiah akan berada pada kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.050 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.

Menurut Lukman, fokus pasar saat ini tertuju pada rilis data ISM Services Amerika Serikat, yang selama ini dikenal mencerminkan kekuatan sektor jasa AS. Jika hasilnya kembali menunjukkan ekspansi yang solid, ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve berpotensi menguat sehingga menopang penguatan dolar AS.

 

Di sisi domestik, pelaku pasar juga mencermati perkembangan cadangan devisa (cadev) Indonesia. Kekhawatiran bahwa posisi cadangan devisa kembali mengalami penurunan dinilai dapat membatasi ruang penguatan rupiah.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...