Konflik AS-Iran dan Defisit APBN Tekan Rupiah, Melemah ke Rp 18.014

Image title
8 Juli 2026, 16:12
rupiah, geoopolitik, defisit APBN
Katadata/Fauza Syahputra
Petugas menghitung pecahan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (18/5/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan hari ini di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan tekanan dari sentimen domestik. Pasar juga menantikan risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Amerika Serikat yang diharapkan memberi petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed.

Menurut data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 34 poin ke level Rp 18.014 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya Rp 17.980 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat melemah hingga 35 poin.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas. Komando Pusat AS (Centcom) disebut telah memulai serangkaian serangan terhadap Iran sebagai respons atas serangan terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz.

"Kembalinya permusuhan dan tanda-tanda masalah pelayaran yang lebih besar di Hormuz kembali memicu kekhawatiran tentang gangguan pasokan di Timur Tengah," ujarnya.

Situasi tersebut semakin diperburuk setelah AS menarik konsesi yang memungkinkan Iran menjual minyak di pasar internasional. Langkah itu dinilai berpotensi memperketat pasokan minyak global dalam beberapa pekan ke depan.

Di sisi lain, laporan mengenai serangan Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz kembali meningkatkan ketidakpastian terhadap keamanan jalur pelayaran strategis dunia. Kondisi ini dinilai dapat menghambat prospek perundingan damai antara kedua negara.

Imbal Hasil Obligasi Pemerintah AS Naik

Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga didukung kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor sepuluh tahun naik 5,5 basis poin menjadi 4,525%.

Meski pasar masih meragukan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Juli, peluang kenaikan pada September kini mendekati 60% berdasarkan CME FedWatch Tool.

"Para pedagang sekarang mengalihkan perhatian mereka ke notulen rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) di bulan Juni, yang akan dirilis nanti malam pada Kamis dini hari pukul 01.00 WIB, untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang pemikiran The Fed, sementara nada komunikasi di bawah Ketua baru Kevin Warsh juga akan menjadi fokus perhatian," kata Ibrahim.

Dari dalam negeri, sentimen negatif juga datang dari kondisi fiskal. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Semester I-2026 tercatat mencapai Rp 196,5 triliun atau setara 0,76% terhadap produk domestik bruto (PDB), meningkat dibandingkan posisi Mei sebesar Rp 180,4 triliun atau 0,70% terhadap PDB.

Realisasi pendapatan negara hingga semester pertama mencapai Rp1.459,4 triliun, sedangkan belanja negara sebesar Rp1.656 triliun.

Secara tahunan, defisit tersebut memang lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 0,84% terhadap PDB. Namun, sejumlah ekonom mulai melihat kondisi tersebut sebagai sinyal meningkatnya tekanan terhadap APBN, terutama karena pelemahan nilai tukar berpotensi mempercepat kenaikan belanja negara dibandingkan penerimaan.

"Dalam struktur APBN saat ini, pelemahan nilai tukar justru lebih cepat mendorong kenaikan belanja dibandingkan penerimaan negara sehingga mempersempit ruang fiskal pemerintah," ujarnya.

Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Indonesia naik menjadi US$ 145,6 miliar pada akhir Juni 2026 dari US$ 144,9 miliar pada akhir Mei. Kenaikan tersebut ditopang oleh penerimaan pajak dan jasa, meski diimbangi pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Meski demikian, Ibrahim menilai posisi cadangan devisa tersebut masih berada di dekat level terendah dalam dua tahun terakhir sehingga pasar tetap mencermati kemampuan bank sentral menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tingginya ketidakpastian global.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...