BI: Pelemahan Rupiah Tak Cerminkan Fundamental Ekonomi Indonesia

Image title
15 Juli 2026, 18:08
rupiah, nilai tukar rupiah, BI
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/sg
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi (kiri) dan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti (kanan) bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini lebih dipengaruhi oleh sentimen global dan persepsi investor dibandingkan memburuknya fundamental ekonomi domestik.

Menurutnya, keputusan baru S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook (prospek) stabil menjadi bukti bahwa fondasi ekonomi nasional masih terjaga.

"Fundamental kita sebenarnya oke. Kalau dibandingkan negara lain, berapa banyak yang masih bisa tumbuh di atas 5% dengan inflasi yang tetap terjaga," kata Destry dalam CMBC Invesment Forum, Rabu (15/7).

Sebagai informasi sebelumnya S&P Global Ratings memutuskan untuk mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil dinilai menjadi sinyal bahwa fundamental ekonomi nasional masih terjaga.

Destry menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di atas 5%, inflasi tetap terkendali, serta cadangan devisa berada pada level sekitar 5,8 hingga 5,9 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sebesar tiga bulan impor. Kondisi tersebut menunjukkan sektor keuangan dan likuiditas domestik masih berada dalam kondisi yang aman.

Meski demikian, Destry mengakui tekanan terhadap rupiah masih cukup besar. Namun, tekanan tersebut lebih dipicu meningkatnya permintaan aset dolar AS di tengah ketidakpastian global daripada pelemahan kondisi ekonomi Indonesia.

"Fundamental kita sebenarnya tidak terlalu sejalan dengan tekanan yang terjadi. Yang lebih berpengaruh adalah persepsi, trust dan confidence yang terbawa dari kondisi global. Ketika indeks dolar menguat, investor cenderung memegang dolar maupun aset lain di luar negeri," ujarnya.

Destry mengatakan keputusan S&P mempertahankan peringkat kredit Indonesia mulai memberikan sentimen positif di pasar keuangan domestik. Meski pasar valas telah tutup ketika hasil pemeringkatan diumumkan, penguatan rupiah mulai terlihat pada perdagangan berikutnya.

"Hari ini dampaknya masih positif. Bahkan kalau dibandingkan negara kawasan, penguatan rupiah termasuk yang terbaik, sekitar 0,2%," katanya.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin sejak Mei hingga Juni sehingga kini berada di level 5,75%. Menurut Destry, kebijakan tersebut diambil untuk meredam volatilitas rupiah sekaligus menciptakan stabilitas yang menjadi prasyarat pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

"Kami memang mandat kami adalah menjaga stabilitas, khususnya nilai tukar. Kalau volatilitas rupiah bisa dikelola dengan baik, dampaknya akan positif terhadap perekonomian secara keseluruhan," ujarnya.

Insentif Likuiditas ke Perbankan

Ia menegaskan, kenaikan suku bunga bukan satu-satunya instrumen yang ditempuh BI. Di sisi lain, bank sentral tetap menjalankan kebijakan makroprudensial yang akomodatif agar likuiditas perbankan tetap terjaga dan penyaluran kredit tidak terganggu.

Salah satunya melalui pemberian insentif likuiditas kepada perbankan dalam bentuk pengurangan kewajiban penempatan dana di BI bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas. Hingga Juni 2026, nilai insentif tersebut telah mencapai sekitar Rp 479 triliun.

"Makanya kalau kita lihat pertumbuhan kredit bank di posisi bulan Mei kemarin itu sudah mencapai di atas 12%. Dan di Juli diperkirakan juga akan berdekati angka-angka itu," kata Destry.

Selain itu, BI terus memperluas penggunaan Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional. Menurut Destry, transaksi menggunakan mata uang lokal dengan mitra dagang, khususnya Cina dan Jepang, terus meningkat. 

Pada Mei 2026, nilai transaksi dengan Cina yang menggunakan skema tersebut telah mencapai ekuivalen sekitar US$ 9 miliar.

BI juga telah menyediakan fasilitas transaksi spot yuan dan yen terhadap rupiah di pasar domestik agar pelaku usaha tidak perlu mencari valuta asing melalui dolar AS.

"Nah, kalau itu bisa dioptimalkan dengan menggunakan mekanisme local currency transaksi, tentunya kan juga permintaan dolar akan berkurang," ujarnya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...