BI: Bursa Mineral Hadirkan Harga Real Time, Perkuat Tata Kelola Perdagangan SDA

Image title
16 Juli 2026, 10:52
BI, bursa mineral, perdagangan
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/tom.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai pembentukan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis akan menjadi langkah penting untuk memperkuat tata kelola perdagangan sumber daya alam (SDA) Indonesia.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai pembentukan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis akan menjadi langkah penting untuk memperkuat tata kelola perdagangan sumber daya alam (SDA) Indonesia. 

Destry mengatakan mekanisme bursa mineral nantinya akan serupa dengan perdagangan di pasar modal. Harga komoditas akan terbentuk secara terbuka berdasarkan transaksi yang terjadi sehingga pelaku usaha maupun pemerintah dapat memantau harga dan volume perdagangan secara langsung (real time).

"Sama seperti di bursa efek, harga langsung tercermin. Berapa harga yang di-quote saat itu, transaksi terjadi dengan jumlah dan kuantitas yang jelas. Mekanisme seperti ini akan membuat perdagangan menjadi jauh lebih transparan," ujarnya dalam CNBC Invesment Forum, Rabu (15/7).

Menurut Destry, sebagai salah satu negara dengan cadangan mineral terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang besar memperoleh nilai tambah yang lebih tinggi apabila tata kelola perdagangan sumber daya alam dapat diperbaiki.

"Kalau kita benar-benar mengatur tata kelola perdagangan sumber daya alam dengan baik, tentu kita berharap itu akan memberikan dampak yang sangat positif bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan," katanya.

Destry mengatakan selama ini salah satu tantangan perekonomian Indonesia berasal dari sektor eksternal. Meskipun neraca perdagangan barang terus mencatat surplus, neraca jasa masih mengalami defisit sehingga memengaruhi keseimbangan transaksi eksternal secara keseluruhan.

"Tantangan terbesar ekonomi kita saat ini ada di sektor eksternal. Kita memang sudah surplus di perdagangan barang, tetapi untuk jasa masih defisit sehingga memengaruhi balance kita secara keseluruhan," kata Destry.

Tarik Investasi Jangka Panjang

Menurut dia, berbagai langkah yang tengah disiapkan pemerintah, termasuk pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII), Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI), serta Bursa Mineral dan Komoditas Strategis merupakan upaya memperkuat struktur ekonomi sekaligus menarik investasi jangka panjang ke Indonesia.

Destry mengatakan kebijakan tersebut diharapkan tidak hanya mendorong arus modal portofolio, tetapi juga investasi langsung ke sektor riil yang memiliki dampak lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi.

"Kalau investasi masuk ke sektor riil, tentu dampaknya lebih panjang karena dana itu akan bergerak dan berputar di perekonomian. Dampaknya bukan hanya di kawasan tempat investasi itu berada, tetapi juga terhadap ekonomi Indonesia secara keseluruhan," ujarnya.

BI mendukung penuh langkah pemerintah dalam membangun tata kelola perdagangan sumber daya alam, termasuk melalui pembentukan bursa mineral. Ia menilai selama ini praktik perdagangan komoditas masih menghadapi sejumlah persoalan, seperti dugaan under invoicing maupun transfer pricing, yang berpotensi mengurangi nilai penerimaan negara.

"Selama ini memang dalam praktiknya masih ada under invoice, kemudian transfer pricing. Dengan adanya DSI, apalagi didukung oleh bursa mineral, saya rasa itu akan sangat baik karena transparansi harga akan langsung tercermin," katanya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...