Krakatau Steel Gabung Anak Usaha Jadi Subholding Sarana Infrastruktur

Lavinda
Oleh Lavinda
2 Juli 2021, 15:12
PT Krakatau Steel (Persero) Tbk merampungkan pembentukan Subholding Sarana Infrastruktur yang bergerak di bidang layanan kawasan industri terintegrasi.
Arief Kamaludin | Katadata
Logo Krakatau Steel di Cilegon, Rabu, (26/11).

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk merampungkan pembentukan Subholding Sarana Infrastruktur yang bergerak di bidang layanan kawasan industri terintegrasi. Ini merupakan gabungan dari beberapa anak usaha Krakatau Steel yang berasal dari empat area utama, yakni kawasan industri, penyediaan energi, penyediaan air industri, dan pelabuhan.

Anak usaha yang tergabung antara lain, PT Krakatau Industrial Estate Cilegon, PT Krakatau Daya Listrik, PT Krakatau Tirta Industri, dan PT Krakatau Bandar Samudera.

Hal itu disahkan melalui penandatanganan dokumen pembentukan Subholding Sarana Infrastruktur Krakatau Steel oleh Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim dan pemegang saham lainnya pada Rabu (30/6). Proses pembentukan subholding telah berjalan selama tiga bulan sejak Maret 2021.

Silmy Karim mengatakan, penggabungan empat perusahaan tersebut memiliki pendapatan Rp 3,4 triliun dan nilai EBITDA sebesar Rp 1 triliun pada 2020. Hal itu menunjukkan subholding Sarana Infrastruktur memiliki pondasi yang kuat secara finansial. Ke depan, dia berharap subholding terus berkembang seiring dengan pertumbuhan kebutuhan kawasan industri di Indonesia.

“Dari pembentukan subholding ini diproyeksikan menghasilkan pendapatan hingga Rp 7,8 triliun di lima tahun mendatang. Sementara untuk EBITDA diproyeksikan meningkat mencapai Rp 2,2 triliun di tahun 2025,” ujar Silmy dalam keterangan tertulis, Kamis (1/7).

Silmy menambahkan, pembentukan subholding ini adalah bagian dari transformasi Krakatau Steel demi meningkatkan nilai perusahaan melalui pengelolaan yang baik dan pengembangan yang terukur.

Menurut Silmy, seluruh infrastruktur ini berada dalam satu kawasan industrid dan terkoneksi dengan fasilitas strategis, sehingga akan membuat Sarana Infrastruktur Krakatau Steel ini lebih kompetitif dibanding kawasan industri lain di Indonesia.

“Dengan beragam keunggulan ini area Subholding Sarana Infrastruktur, ke depannya berpotensi menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK),” tutup Silmy.

Anak-anak usaha yang tergabung dalam subholding ini memiliki profil masing-masing. Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC) mengelola 3.250 hektar lahan industri dengan 920 hektar lahan industri yang tersedia untuk pengembangan tiga tahun ke depan. Area kawasan industri yang dikelola oleh KIEC disebut-sebut menjadi salah satu dari lima kawasan industri terbesar di Indonesia.

Krakatau Daya Listrik (KDL) memiliki kapasitas 120 MW dan  tengah membangun fasilitas energi terbarukan melalui energi surya terapung yang mulai beroperasi pada 2023.

Anggota subholding lainnya adalah Krakatau Tirta Industri (KTI), perusahaan penyedia jasa air industri terintegrasi. Perusahaan memiliki kapasitas 3.000 liter per detik di Cilegon, dan penambahan 1.600 liter per detik yang sedang dikembangkan di Gresik, Kendari dan Sumbawa.

Terakhir, Krakatau Bandar Samudera (KBS) memiliki kapasitas bongkar muat pelabuhan sebesar 25 juta ton per tahun dengan ketersediaan 17 jeti. Selain itu, KBS adalah pelabuhan curah terbesar dan terdalam secara alami di Indonesia dengan fasilitas pergudangan yang terintegerasi dan efisien.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...