Laba Bersih Bank Syariah Indonesia (BRIS) Naik Jadi Rp 1,87 Triliun
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI mencatatkan kenaikan laba bersih 10% dibandingkan periode yang sama tahun lalu alias year on year (yoy) Rp 1,87 triliun pada kuartal pertama.
Pertumbuhan laba itu mendorong kenaikan laba bersih per saham 10,05% menjadi Rp 40,73.
Beban operasional naik 8,33% menjadi Rp 2,29 triliun, sementara laba operasional tumbuh 9,67% menjadi Rp2,48 triliun. Penyaluran dana BSI tumbuh 12,5% yoy menjadi Rp 7,09 triliun.
Jika dihitung sejak Desember 2024 atau year to date (ytd), dana simpanan wadiah naik tipis 0,74% menjadi Rp 74,97 triliun per Maret 2025. Angka ini berasal dari giro Rp 19,02 triliun dan tabungan Rp 55,91 triliun.
Sementara itu, dana investasi non profit sharing turun 3,42% menjadi Rp 244,36 triliun. Dana ini terdiri dari giro Rp 38,73 triliun, tabungan Rp 80,94 triliun, dan deposito Rp 124,68 triliun, masing-masing turun dari sebelumnya Rp 37,18 triliun, Rp 85,25 triliun, dan Rp 130,58 triliun.
Total aset BSI juga menurun 1,89% ytd menjadi Rp 400,88 triliun. Sementara itu, ekuitas tumbuh 4,16% menjadi Rp 46,91 triliun dan liabilitas turun 2,64% menjadi Rp 353,96 triliun.
Net Imbalan (NI) atau margin bersih bank berada di level 5,31%, turun tipis dibandingkan Maret 2024 5,38%. Net Operating Margin (NOM) stabil di angka 2,78%.
NOM adalah rasio keuangan yang mengukur kemampuan perusahaan, khususnya dalam sektor perbankan, untuk menghasilkan pendapatan operasional setelah dikurangi biaya operasional.
Dari sisi profitabilitas, Return on Assets (ROA) BSI 2,43% turun dibandingkan Maret 2024 2,51%. Return on Equity (ROE) juga turun dari 18,3% menjadi 17,58%, seiring meningkatnya ekuitas perseroan.
ROA digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat aset yang dimiliki. Sementara itu, ROE untuk membandingkan kemampuan manajemen modal perusahaan dengan kompetitor.
Dari sisi kualitas aset, Non Performing Financing (NPF) net turun dari periode yang sama tahun lalu 0,55% menjadi 0,51%. NPF gross juga turun dari 2,01% menjadi 1,88%.
Financing to Deposit Ratio (FDR) meningkat dari 83,05% menjadi 89,87%. Hal ini menunjukkan penyaluran dana ke pembiayaan yang lebih agresif.
Di sisi lain, Rasio Giro Wajib Minimum atau GWM Rupiah di 2,82% dan GWM valas harian 6,82%.
