Laba Antam Melonjak 171%, Mayoritas Pendapatan Didorong Penjualan Emas
Emiten pertambangan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam raup laba bersih hingga Rp 5,97 triliun hingga kuartal ketiga 2025. Torehan itu melonjak 171,4% secara tahunan atau year on year (yoy) dari periode yang sama sebelumnya Rp 2,20 triliun pada 2024. Adapun laba bersih per saham menjadi Rp 248,62.
Melonjaknya laba Antam sepanjang Januari–September 2025 ini ditopang oleh penjualan dalam segmen emas yang berkontribusi hingga 81%
Berdasarkan laporan keuangan, penjualan Antam melonjak 66,7% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 72,02 triliun dari sebelumnya Rp 43,20 triliun. Sejalan dengan itu, EBITDA perusahaan pada periode 9 bulan pertama 2025 ikut naik signifikan 137% menjadi Rp 9,33 triliun, dibandingkan Rp 3,93 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Utama Antam, Achmad Ardianto, mengatakan capaian kinerja yang solid ini mencerminkan kekuatan fundamental perusahaan serta menjadi semangat untuk terus bertransformasi menuju bisnis yang berkelanjutan. Ia menyebut hasil tersebut juga menunjukkan efektivitas strategi pengelolaan biaya dan optimalisasi nilai tambah produk yang dijalankan perusahaan sepanjang tahun.
Tak hanya itu, ia juga mengatakan perusahaan tidak hanya berfokus pada peningkatan kinerja keuangan, tetapi juga pada penciptaan nilai jangka panjang melalui praktik pertambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
“Antam terus berinovasi pada setiap aspek operasional, bisnis, dan sustainability untuk menciptakan nilai tambah dan manfaat yang berkelanjutan bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan,” ucap Ardianto dalam keterangan resminya, Selasa (28/10).
Pundi-pundi yang Mendongkrak Kinerja Antam
Di tengah tantangan industri pertambangan dalam negeri, Aneka Tambang (Antam) berhasil mencatatkan kinerja operasional yang optimal sepanjang sembilan bulan pertama 2025. Penjualan komoditas utama seperti emas, nikel, dan bauksit tumbuh 67% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 72,03 triliun, dibandingkan Rp 43,20 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari total tersebut, penjualan domestik menyumbang Rp 69,31 triliun atau 96% dari pendapatan bersih Antam.
Didorong oleh permintaan domestik, Antam mencatatkan penjualan emas yang kuat sepanjang sembilan bulan pertama 2025 dengan tumbuh 64% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 58,67 triliun dibandingkan Rp 35,70 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Segmen emas menjadi kontributor utama dengan porsi 81% dari total penjualan Antam.
Kenaikan ini ditopang oleh strategi pemasaran yang efektif, inovasi produk, serta penguatan pangsa pasar domestik. Volume penjualan emas naik 20% menjadi 34.164 kg (1.098.398 troy oz) dari 28.567 kg (918.450 troy oz) pada 9M24, sementara produksi emas dari tambang Antam tercatat 590 kg (18.969 troy oz).
Pada saat yang sama, segmen nikel (produk feronikel dan bijih nikel) berkontribusi 15% atau Rp 11,15 triliun, melonjak 83% yoy dari Rp 6,10 triliun. Kinerja positif ini didorong oleh permintaan domestik yang kuat, terutama dari pabrik smelter yang mengandalkan kualitas dan spesifikasi bijih nikel Antam untuk menjaga efisiensi dan kontinuitas operasi. Hal ini memperkuat peran strategis Antam dalam mendukung ekosistem industri hilir nikel nasional.
Dari sisi operasional, produksi bijih nikel mencapai 12,55 juta wet metric ton (wmt), naik 72% dari 7,30 juta wmt tahun lalu. Penjualan bijih nikel juga melonjak 97% menjadi 11,23 juta wmt dibanding 5,71 juta wmt pada 9M24. Untuk feronikel, Antam mencatatkan produksi 13.309 ton nikel dalam feronikel (TNi) dan penjualan 8.182 TNi selama periode tersebut.
Sementara itu, segmen bauksit dan alumina berkontribusi 3% terhadap total penjualan dengan nilai Rp 1,95 triliun, tumbuh 68% yoy dari Rp 1,16 triliun. Volume produksi bauksit meningkat signifikan 263% menjadi 2,31 juta wmt, sedangkan penjualan bauksit melonjak tajam 1.033% menjadi 1,10 juta wmt.
Melalui entitas anak, PT Indonesia Chemical Alumina (ICA), Antam juga membukukan produksi alumina sebesar 134.224 ton, naik 27% yoy, dengan penjualan 134.768 ton, meningkat 1% dibandingkan periode yang sama 2024 lalu.
