Menjadi “Pohon Rindang”, Astra Jaga Relevansi di Tengah Perubahan Zaman

Tim Publikasi Katadata
17 Maret 2026, 19:12
Menara Astra
Ilustrasi
Menara Astra
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menjelang usia ke-70, PT Astra International Tbk tidak sekadar merayakan perjalanan panjang korporasi. Lebih dari itu, Astra menegaskan kembali jati dirinya sebagai entitas bisnis yang tumbuh bersama bangsa serta mengakar kuat, sekaligus memberi naungan luas bagi masyarakat.

“Enam puluh sembilan tahun bukan sekadar hitungan waktu, melainkan kisah tentang jutaan langkah yang tumbuh dan bergerak bersama bangsa,” ujar Presiden Direktur Djony Bunarto Tjondro dalam wawancara bersama Chief of Corporate Affairs Astra, Boy Kelana Soebroto, baru-baru ini.

Refleksi tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana Astra menjaga relevansi di tengah perubahan zaman, krisis ekonomi, disrupsi teknologi, hingga dinamika global.

Di balik ketangguhan Astra, terdapat fondasi nilai yang telah diwariskan sejak awal berdirinya oleh William Soeryadjaya. Filosofi “pohon rindang” menjadi simbol bahwa Astra tidak hanya bertumbuh sebagai bisnis, tetapi juga memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Menurut Djony, nilai tersebut terwujud dalam Catur Dharma, yang bukan sekadar prinsip tertulis, tetapi menjadi “kompas” dalam setiap keputusan perusahaan.

“Catur Dharma bukan sekadar prinsip yang tertulis, tetapi nilai yang dihidupi dalam setiap keputusan, setiap kerja sama, dan setiap langkah perusahaan,” tegasnya.

Nilai ini kemudian diterjemahkan dalam strategi jangka panjang melalui 3P Roadmap: Portfolio, People, dan Public Contribution, sebuah kerangka yang menjaga keseimbangan antara kinerja bisnis dan keberlanjutan.

Di tengah perubahan model bisnis dan teknologi, Astra meyakini bahwa faktor manusia tetap menjadi penentu utama.

“Perusahaan tidak hanya dibangun oleh sistem atau strategi, tetapi oleh orang-orang yang menjalankannya,” ujar Djony.

Konsep people legacy menjadi kunci dalam menjaga kesinambungan Astra lintas generasi. Regenerasi kepemimpinan dilakukan secara terencana, dengan penyiapan talenta melalui rotasi lintas bisnis dan peningkatan tanggung jawab secara bertahap.

“Kita harus terus mencari dan mengembangkan talenta-talenta baru… yang memiliki kemampuan yang baik dan juga memiliki hati yang baik, karakter yang baik, serta loyal terhadap organisasi,” katanya.

Dalam konteks ini, Astra tidak hanya membangun pemimpin yang kompeten, tetapi juga berkarakter—sebuah kombinasi yang diyakini mampu menjaga keberlanjutan perusahaan.

Dalam enam tahun terakhir, Astra menunjukkan kinerja yang solid. Laba bersih meningkat dari Rp16,2 triliun pada 2020 menjadi Rp32,8 triliun pada 2025. Ini merupakan sebuah capaian yang tidak lepas dari strategi diversifikasi portofolio.

Saat ini, Astra memiliki lebih dari 321 anak usaha dengan lebih dari 190.000 karyawan, yang tersebar di tujuh lini bisnis, mulai dari otomotif hingga infrastruktur dan teknologi.

Djony menekankan bahwa kekuatan Astra terletak pada kemampuan menyeimbangkan berbagai sektor dengan sensitivitas ekonomi yang berbeda.

“Diversifikasi yang terkelola dengan baik di berbagai sektor, mampu meningkatkan stabilitas laba di berbagai siklus ekonomi,” ujarnya.

Selain memperkuat bisnis inti, Astra juga aktif mengeksplorasi peluang baru, seperti layanan kesehatan dan mineral non-batubara, serta memperluas lini pembiayaan dan mobil bekas. Langkah ini mencerminkan strategi untuk menjaga keseimbangan antara kinerja jangka pendek dan transformasi jangka panjang.

Bagi Astra, pertumbuhan tidak cukup hanya dengan mempertahankan kinerja. Ekspansi menjadi keniscayaan, namun harus dilakukan secara terukur.

“Apabila Astra bicara mengenai portfolio, maka Astra membahas mengenai optimalisasi bisnis saat ini, pengembangan lini bisnis baru yang berkaitan, serta investasi di sektor-sektor baru,” jelas Djony.

Setiap langkah ekspansi selalu berlandaskan prinsip kehati-hatian dan disiplin alokasi modal. Tujuannya jelas: memperkuat mesin pertumbuhan masa depan tanpa mengorbankan stabilitas perusahaan.

Dari Bisnis ke Kontribusi Sosial

Namun, perjalanan Astra tidak berhenti pada pencapaian bisnis. Sejak awal, perusahaan ini membawa misi yang lebih luas: Sejahtera Bersama Bangsa.

Kontribusi tersebut diwujudkan melalui berbagai inisiatif sosial, seperti Desa Sejahtera Astra yang berfokus pada kesehatan, pendidikan, kewirausahaan, dan lingkungan. Hingga kini, program ini telah menjangkau lebih dari 1.500 desa di seluruh Indonesia.

Astra juga menginisiasi SATU Indonesia Awards untuk mengapresiasi generasi muda inspiratif, serta program Nurani Astra yang fokus pada bantuan kemanusiaan.

“Astra harus tetap menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara,” tegas Djony.

Memasuki dekade ketujuh, Astra memandang tantangan ke depan akan semakin kompleks—tidak hanya dari sisi bisnis, tetapi juga sosial dan global. Namun, perusahaan percaya bahwa fondasi yang telah dibangun akan menjadi kekuatan utama.

Continuity gives stability, but values give eternity. Great companies are not built in a year, but across generations that honour their values, sharpen their core, and embrace the future with courage,” tutup Djony.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...