Ekonom: Dominasi Dana Murah Jadi Kekuatan Fundamental Bisnis Perbankan
Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan risiko fiskal domestik, kinerja PT Bank Central Asia Tbk (BCA) pada kuartal I 2026 menunjukkan ketahanan yang kokoh. Daya tahan yang kuat dari BBCA ini dipengaruhi oleh strategi yang adaptif dalam membaca perubahan perilaku nasabah dan dinamika makro yang semakin kompleks.
Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, menilai kekuatan utama BCA terletak pada fundamental bisnisnya, khususnya dominasi dana murah atau CASA (Current Account Saving Account). Dalam lanskap perbankan Indonesia, ia mengatakan, instrumen CASA ini menjadi indikator penting karena mencerminkan stabilitas likuiditas sekaligus efisiensi biaya dana.
Yanuar juga melihat langkah BCA dengan membuka opsi “poket valas” atau konversi tabungan rupiah ke valuta asing menjadi krusial. Strategi ini bukan sekadar inovasi produk, melainkan bentuk respons terhadap perubahan preferensi nasabah.
“Kemampuan BCA mempertahankan likuiditas DPK (Dana Pihak Ketiga) dengan memberi ruang nasabah tetap menahan dananya di BCA melalui penyediaan poket valas merupakan strategi yang kuat,” jelas Yanuar saat diwawancarai pada Kamis (23/4) dari Jakarta.
Dengan menyediakan kanal lindung nilai di dalam ekosistemnya sendiri, BCA secara efektif “menahan” potensi capital outflow di level mikro. Alih-alih dana keluar dari bank untuk membeli dolar atau emas di luar sistem, nasabah tetap menyimpan dananya di BCA dalam bentuk valas.
"Bahkan, pelemahan rupiah secara tidak langsung turut meningkatkan nilai CASA dalam denominasi rupiah, memberikan efek tambahan bagi neraca bank," ujarnya.
Yanuar menjelaskan adanya fenomena ini mencerminkan bagaimana bank tidak hanya menjadi intermediary tradisional, tetapi juga beradaptasi sebagai platform manajemen risiko bagi nasabah.
"Di sisi lain, keunggulan BCA juga diperkuat oleh dominasi dalam sistem pembayaran yang terintegrasi. Infrastruktur payment gateway yang kuat menciptakan hubungan “back-to-back” antara penghimpunan dana (saving) dan penyaluran kredit, khususnya kredit konsumsi,” ujarnya.
Model ini memungkinkan BCA menjaga kualitas aset sekaligus memoderasi potensi kenaikan kredit bermasalah (NPL).
Memiliki Daya Tarik Kuat
Dalam perspektif investasi, saham BCA tetap memiliki daya tarik tersendiri. Alih-alih sebagai safe haven, Yanuar melihat BBCA sebagai kandidat untuk strategi akumulasi jangka panjang, terutama saat terjadi koreksi harga dan volatilitas mulai mereda. Selanjutnya dari sisi perilaku nasabah, dinamika yang terjadi juga menarik.
Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan bahwa deposan kecil cenderung mengurangi tabungan, sementara deposan besar justru tumbuh. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran sikap, yakni kelompok masyarakat dengan dana besar memilih menahan likuiditas dan menghindari ekspansi di tengah ketidakpastian.
Dalam situasi tersebut, Yanuar mengatakan, segmentasi nasabah seperti Prioritas dan Solitaire menjadi semakin relevan. BCA tidak hanya menawarkan layanan eksklusif, tetapi juga memposisikan diri sebagai institusi yang mampu menjadi “safe place” bagi dana besar.
Hal ini bukan dalam arti bebas risiko pasar, melainkan sebagai tempat untuk melakukan lindung nilai secara fleksibel. “Nasabah prioritas dan solitaire memang bagian dari strategi agar pemilik dana besar tetap merasa bank menjadi tempat untuk menjaga lindung nilai,” kata Yanuar.
