Danantara Kebut Transformasi Digital BUMN, Targetkan Efisiensi hingga 40%
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara Indonesia tengah mengebut transformasi digital badan usaha milik negara (BUMN). Langkah itu dijalankan dengan target efisiensi awal mencapai 25–40%, tergantung pada karakteristik dan kesiapan masing-masing BUMN.
Transformasi digital tersebut akan dilakukan secara bertahap. Dimulai dari pengukuran kesiapan digital seluruh BUMN dan pembangunan fondasi kolaborasi dalam enam bulan pertama.
Chief Technology Officer Danantara, Sigit Puji Santosa, menyebut pentingnya transformasi digital yang terkoordinasi di seluruh ekosistem BUMN. Tujuannya agar perusahaan pelat merah berjalan lebih terukur, efektif, dan mampu mendorong peningkatan kinerja operasional maupun bisnis.
Danantara juga mendorong transformasi digital secara menyeluruh, mulai dari penguatan model bisnis, pengalaman pelanggan, model operasi, infrastruktur teknologi, hingga tata kelola dan pemanfaatan data.
Melalui pendekatan yang lebih terintegrasi dan berdampak langsung pada operasional perusahaan, Danantara juga ingin memastikan transformasi digital tidak berhenti di tahap perencanaan, tetapi menghasilkan perbaikan kinerja nyata di masing-masing BUMN.
Selain itu, Sigit mengatakan Danantara mengarahkan transformasi digital untuk memperkuat sinergi antar-BUMN lewat konsolidasi dan integrasi platform, teknologi, serta pemanfaatan kapabilitas bersama.
“Pada area tertentu yang memiliki tingkat duplikasi tinggi, seperti belanja teknologi, infrastruktur digital, lisensi, dan layanan bersama, terjadinya sinergi akan berpotensi menghasilkan efisiensi dengan estimasi awal mencapai 25–40%,” kata Sigit dalam keterangannya, Kamis (7/5).
Lebih jauh, Danantara menilai pesatnya perkembangan teknologi terutama di bidang artificial intelligence (AI), advanced analytics, post-quantum readiness, dan keamanan siber, membuat BUMN harus bergerak cepat untuk beradaptasi.
Hal ini menjadi langkah awal dalam menyusun arah serta proses adopsi frontier technologies atau teknologi masa depan. Hal itu demi meningkatkan produktivitas, kualitas pengambilan keputusan, dan mendorong lahirnya inovasi baru yang relevan dengan kebutuhan industri.
Danantara juga menjadikan pengembangan talenta digital sebagai salah satu fokus utama. Pasalnya, Indonesia diperkirakan membutuhkan tambahan sekitar 600.000 talenta digital per tahun hingga 2030.
Melalui pendekatan “Triple Helix”, Danantara memperkuat kolaborasi antara industri, pemerintah, dan akademisi untuk mempercepat pengembangan talenta, riset, hingga komersialisasi inovasi nasional.
Selain itu, Danantara mendorong pengembangan teknologi strategis dalam negeri seperti sovereign AI, sovereign cloud, dan berbagai teknologi masa depan lainnya untuk memperkuat kapabilitas nasional.
Sigit mengatakan, langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas dan kinerja ekosistem BUMN, tetapi juga memperkuat “Indonesia Inc” melalui kolaborasi yang lebih erat antara Danantara, BUMN, pemerintah, akademisi, dan pelaku industri.
Setelah itu, Danantara akan menjalankan roadmap digital terintegrasi melalui Danantara Digital Transformation Task Force sebagai mekanisme tata kelola bersama dari level Danantara Indonesia hingga seluruh BUMN. Melalui skema ini, pelaksanaan transformasi digital diharapkan dapat dipantau secara lebih jelas, terukur, dan akuntabel.
“Sekaligus membuka ruang untuk saling membantu dalam area penting seperti auditability, pengelolaan keuangan, integrasi data dan sistem, dan peningkatan kinerja operasional,” ucap Sigit.
