Greater Bay Area Perluas Jejak di ASEAN, Indonesia Mitra Strategis AI dan EV

Ira Guslina Sufa
6 Juli 2026, 06:55
Ilustrasi, Hong Kong ASEAN
Freepik
Ilustrasi, Hong Kong
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kawasan Greater Bay Area (GBA) Cina mulai memperluas jejak investasi dan bisnisnya ke Asia Tenggara, dengan Indonesia menjadi salah satu pasar strategis utama. Kawasan ekonomi yang menghubungkan Hong Kong, Shenzhen, Guangzhou, dan sembilan kota lainnya di Cina Selatan itu kini membidik sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), kendaraan listrik (electric vehicle/EV), ekonomi digital, hingga transisi energi di Indonesia.

Ekspansi tersebut berlangsung di tengah restrukturisasi rantai pasok global dan meningkatnya peran ASEAN sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dunia. Dengan populasi sekitar 88 juta penduduk dan ukuran ekonomi yang setara dengan ekonomi terbesar ke-10 dunia, Greater Bay Area kini menjadi pusat pengembangan teknologi, manufaktur maju, dan inovasi Cina yang mulai agresif berekspansi ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. 

Associate Director-General of Investment Promotion Invest Hong Kong, Loretta Lee, mengatakan Indonesia memiliki posisi yang sangat penting dalam strategi ekspansi Hong Kong dan Greater Bay Area ke ASEAN. Menurut dia, Indonesia menawarkan kombinasi pasar domestik yang besar, bonus demografi, transformasi digital yang cepat, program pembangunan infrastruktur, serta strategi hilirisasi industri yang agresif.

"Indonesia memiliki tempat yang istimewa dalam strategi kami. Sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, Indonesia menawarkan potensi yang luar biasa, mulai dari pasar domestik yang kuat, demografi muda, transformasi digital yang cepat, rencana infrastruktur yang ambisius, hingga strategi hilirisasi industri yang berani," kata Loretta Lee dalam wawancara dengan Katadata seperti dikutip Minggu (5/7). 

Dua sektor yang paling menonjol dalam ekspansi GBA ke Indonesia adalah kecerdasan buatan dan kendaraan listrik. Kedua sektor tersebut menjadi fokus utama ekspansi perusahaan-perusahaan Greater Bay Area karena didukung oleh ekosistem manufaktur Cina, penguasaan teknologi, serta besarnya pasar domestik Indonesia. 

Loretta mengatakan pergeseran investasi Hong Kong dan Greater Bay Area ke Indonesia kini semakin berfokus pada sektor berbasis teknologi dan keberlanjutan. Ekonomi digital menjadi sektor yang paling menarik perhatian investor Hong Kong, terutama karena besarnya populasi muda Indonesia yang semakin terkoneksi secara digital.

"Ekonomi digital menjadi sektor terdepan. Populasi Indonesia yang besar, muda, dan terkoneksi secara digital mendorong pertumbuhan eksponensial fintech, AI, layanan cloud, infrastruktur digital, dan perdagangan elektronik," ujarnya.

Selain ekonomi digital, pengembangan ekonomi hijau juga menjadi magnet investasi baru. Ia mengatakan, investor Hong Kong mulai menjajaki peluang pada sektor energi terbarukan, rantai pasok kendaraan listrik, bahan baku baterai, manajemen karbon, infrastruktur berkelanjutan, dan pembiayaan hijau.

"Perusahaan Hong Kong secara aktif menjajaki energi terbarukan, rantai pasok kendaraan listrik, material baterai, manajemen karbon, infrastruktur berkelanjutan, dan pembiayaan hijau, yang semuanya sejalan dengan ambisi Indonesia untuk menjadi pusat manufaktur kendaraan listrik dan transisi energi regional," kata dia.

Loretta mengatakan, dalam satu dekade terakhir telah terjadi transformasi besar dalam pola investasi Hong Kong di ASEAN. Jika sebelumnya investasi didominasi sektor manufaktur dan perdagangan, kini arus modal mulai beralih ke inovasi, teknologi, keberlanjutan, dan jasa bernilai tambah tinggi.

"ASEAN tidak lagi hanya menjadi basis produksi, tetapi juga pasar konsumen yang berkembang pesat serta ekosistem inovasi," ujarnya.

Ketertarikan perusahaan-perusahaan Greater Bay Area terhadap Indonesia juga mulai terlihat di sektor kendaraan listrik roda dua. CEO One Energy (HK) Limited Kevin To mengatakan Indonesia menjadi salah satu pasar paling potensial di Asia karena memiliki lebih dari 120 juta sepeda motor yang berpotensi beralih ke kendaraan listrik.

"Indonesia adalah salah satu pasar sepeda motor terbesar di dunia, dengan lebih dari 120 juta sepeda motor," kata Kevin To kepada Katadata.

Menurut dia, One Energy telah menjajaki kerja sama dengan mitra lokal di Indonesia untuk membentuk usaha patungan (joint venture) dan membangun infrastruktur pendukung kendaraan listrik. Salah satu penjajakan kerja sama dilakukan dengan perusahaan lokal yang tengah mengembangkan bisnis kendaraan listrik. 

"Kami berbicara tentang membangun joint venture dengan perusahaan lokal untuk masuk ke Indonesia dan menyediakan layanan ini, serta membangun fasilitas manufaktur di Indonesia. Karena Indonesia adalah pasar yang sangat besar," ujarnya.

Kevin menilai transisi kendaraan listrik di Asia juga didorong oleh meningkatnya kesadaran negara-negara di kawasan untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak di tengah ketidakpastian geopolitik global.

CEO One Energy Kevin To

CEO One Energy Kevin To (GBA-Asean)

Restrukturisasi Rantai Pasok Dorong Ekspansi GBA 

Pergeseran arah investasi GBA di ASEAN terjadi di tengah restrukturisasi rantai pasok global akibat meningkatnya rivalitas geopolitik antara Amerika Serikat dan Cina. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan-perusahaan Cina dan global mulai mendiversifikasi basis produksi dan investasinya ke Asia Tenggara, sehingga menempatkan ASEAN, termasuk Indonesia, sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan industri baru. 

Perubahan strategi investasi tersebut juga dirasakan oleh pelaku usaha Indonesia yang melihat semakin besarnya minat perusahaan-perusahaan berbasis GBA untuk berekspansi ke Indonesia. Ketua Komite Bilateral Hong Kong dan Makau Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Suwito mengatakan selain investasi manufaktur dan kendaraan listrik, Indonesia memiliki peluang besar menarik investasi di sektor ekonomi digital dan kecerdasan buatan dari Hong Kong maupun kawasan GBA. 

Suwito mengatakan posisi Hong Kong dalam investasi Indonesia selama ini kerap tidak terlalu terlihat. Padahal, Hong Kong merupakan salah satu investor asing terbesar di Indonesia.

"Hong Kong sebenarnya merupakan investor asing terbesar kedua di Indonesia. Jika digabungkan dengan Cina, maka posisinya menjadi nomor satu," kata dia.

Menurut Suwito, besarnya jumlah pengguna internet dan populasi muda menjadikan Indonesia sebagai pasar yang menarik bagi perusahaan teknologi dari Hong Kong dan Greater Bay Area. Dengan sekitar 220 juta pengguna internet, Indonesia memiliki basis pasar yang besar bagi pengembangan ekonomi digital. 

“Itu yang akan kami promosikan agar dapat menarik investasi, selain investasi fisik seperti BYD dan lainnya, juga lebih kepada ekosistem baterai dan kendaraan listrik," ujarnya.

Suwito berharap investasi dari Shenzhen tidak hanya masuk ke sektor manufaktur, tetapi juga ke startup dan perusahaan digital. Apalagi menurut dia, investasi di sektor digital bisa lebih efisien karena tetap bisa berpusat di Hong Kong atau Shenzhen.Di tengah meningkatnya rivalitas ekonomi global, Hong Kong melihat ASEAN justru memperoleh keuntungan dari perubahan rantai pasok dunia. 

Sementara itu, InvestHK menilai meningkatnya ketegangan geopolitik global, terutama rivalitas Amerika Serikat dan China, justru memperkuat posisi ASEAN dalam rantai pasok global.

"Ketika rantai pasok global direkonfigurasi, ASEAN muncul sebagai salah satu pihak yang paling diuntungkan, bukan hanya sebagai basis produksi pelengkap, tetapi juga sebagai pasar konsumen yang tumbuh cepat dan ekosistem inovasi," kata Loretta.

Menurut dia, kondisi tersebut sekaligus memperkuat peran Hong Kong sebagai super connector dan memberikan nilai tambah yang menghubungkan modal global, perusahaan Cina, dan peluang investasi di ASEAN.

"Kami tidak hanya menghubungkan pasar, tetapi juga menciptakan nilai bagi kedua belah pihak, membantu perusahaan Cina dan internasional menggunakan Hong Kong sebagai basis ekspansi ke ASEAN, sekaligus menyalurkan modal global ke kawasan ASEAN dan Greater Bay Area," ujar Loretta.

Indonesia Jadi Tujuan Utama Ekspansi Greater Bay Area 

Ketertarikan terhadap Indonesia juga datang dari perusahaan-perusahaan yang berbasis di Greater Bay Area (GBA) Cina. Menurut InvestHK, Indonesia dipandang sebagai salah satu tujuan utama ekspansi global perusahaan-perusahaan di kawasan tersebut.

Loretta mengatakan Indonesia menawarkan prospek pertumbuhan yang menarik melalui populasi muda, kelas menengah yang berkembang, serta visi Indonesia Emas 2045 yang berfokus pada pembangunan infrastruktur, ekonomi digital, dan transformasi hijau.

"Data industri terbaru menempatkan Indonesia sebagai salah satu tujuan utama ekspansi Greater Bay Area, dengan banyak perusahaan berencana mengalokasikan sumber daya baru yang signifikan ke Indonesia," katanya.

Direktur Sumber Daya dan Industrialisasi Kementerian Luar Negeri RI dalam GBA-ASEAN Summit 2026 Awidya Santikajaya, Selasa (30/6)

Direktur Sumber Daya dan Industrialisasi Kementerian Luar Negeri RI dalam GBA-ASEAN Summit 2026 Awidya Santikajaya, Selasa (30/6) (Katadata/Ira Guslina)

Direktur Sumber Daya dan Industrialisasi Kementerian Luar Negeri, Awidya Santikajaya, mengatakan hubungan antara Indonesia, ASEAN, Hong Kong, dan Greater Bay Area berpotensi menciptakan ekosistem ekonomi baru yang didukung modal, teknologi, dan kapasitas manufaktur. Menurut Awidya, Indonesia melihat Hong Kong sebagai pusat penghubung modal dan teknologi yang dapat mempercepat industrialisasi dan transformasi digital di kawasan.

"Kami melihat Hong Kong sebagai hub untuk modal, teknologi, dan perusahaan yang memiliki jangkauan internasional. Kami melihat hubungan antara Indonesia dan Greater Bay Area secara sangat positif," kata Awidya.

Lebih jauh Awidya menjelaskan, kombinasi modal dan teknologi dari Hong Kong serta kapasitas manufaktur ASEAN berpotensi menciptakan ekosistem industri baru di kawasan. Ia mengatakan, kerja sama di masa depan diperkirakan akan berkembang pada sektor digital services, industrial processing, fintech, logistik, inovasi, hingga pengembangan talenta.

Sementara itu, Chief Executive Hong Kong Special Administrative Region, John Lee, mengatakan Hong Kong tengah memperkuat perannya sebagai penghubung investasi internasional melalui integrasi dengan Greater Bay Area yang memiliki populasi sekitar 88 juta orang dan ukuran ekonomi yang setara dengan ekonomi terbesar kesepuluh di dunia.

Menurut John Lee, pengembangan fintech, smart city, infrastruktur digital, AI, serta inovasi teknologi akan menjadi fokus utama kerja sama Hong Kong dengan ASEAN pada masa mendatang. Fokus tersebut, menurut dia, akan menjadi fondasi baru kerja sama ekonomi antara Hong Kong, Greater Bay Area, dan negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia. 

Dengan posisi sebagai ekonomi terbesar di ASEAN dan pasar digital terbesar di kawasan, Indonesia dipandang akan menjadi salah satu mitra utama ekspansi investasi dan teknologi Greater Bay Area pada dekade mendatang. Bagi Hong Kong dan Greater Bay Area, Indonesia bukan lagi sekadar tujuan investasi, melainkan salah satu pilar utama strategi ekspansi baru mereka di Asia Tenggara. 

 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...