ASEAN Jadi Magnet Industri Biofarmasi, Nilai Pasar Diprediksi Tembus Rp 231 T
Pertumbuhan industri biofarmasi di Asia Tenggara atau kawasan ASEAN diperkirakan terus melonjak dalam beberapa tahun ke depan. IMARC Group memproyeksikan nilai pasar sektor ini mencapai US$ 12,8 miliar pada 2034.
Angka tersebut setara dengan Rp 231,38 triliun (kurs Rp 18.077 per dolar AS). Jika dibandingkan dengan tahun lalu, nilai pasar biofarmasi di ASEAN berjumlah US$ 6,7 miliar atau Rp 121,12 triliun. Dengan begitu, akan ada kenaikan hampir dua kali lipat dalam delapan tahun mendatang.
Berdasarkan analisis pasar terbaru oleh IMARC Group, meningkatnya pasar biofarmasi regional karena didorong kenaikan belanja kesehatan. Selain itu, peningkatan tersebut juga ditopang populasi yang menua, meningkatnya prevalensi penyakit kronis, kebijakan pemerintah yang mendukung, serta kemajuan pesat di bidang bioteknologi.
Seiring dengan itu, Thailand terus memperkuat industri biofarmasinya melalui investasi pada infrastruktur nasional guna meningkatkan daya saing sekaligus memperkokoh posisinya sebagai pusat inovasi dan manufaktur biofarmasi di Asia Tenggara.
Salah satu upaya tersebut melalui pengembangan National Biopharmaceutical Facility (NBF) di King Mongkut's University of Technology Thonburi (KMUTT). Fasilitas ini dirancang untuk mendukung seluruh rantai riset dan pengembangan biofarmasi.
Beberapa kegiatan R&D yang dilakukan antara lain pengembangan bioproses, karakterisasi analitik, manufaktur berstandar Good Manufacturing Practice (GMP), hingga transfer teknologi ke industri. NBF juga berperan dalam memperkuat kapasitas produksi vaksin dan produk biofarmasi dalam negeri.
Katadata berkesempatan melakukan site visit alias kunjungan ke lokasi pengembangan NBF menjelang penyelenggaraan CPHI South East Asia 2026 di Bangkok, Thailand. Dari hasil pengamatan, terlihat bagaimana Negeri Gajah Putih itu serius membangun ekosistem biofarmasi yang terintegrasi, dengan menghubungkan kegiatan penelitian di laboratorium hingga proses komersialisasi dan produksi skala industri.
Kunjungan tersebut difasilitasi oleh Informa Markets (Thailand) selaku penyelenggara CPHI South East Asia 2026. Melalui agenda itu, Thailand menunjukkan perkembangan ekosistem biofarmasinya sekaligus memperkenalkan kapasitas manufaktur dan riset yang ditujukan untuk menarik investasi serta memperkuat perannya dalam industri biofarmasi di kawasan ASEAN.
Infrastruktur Nasional Dorong Masa Depan Biofarmasi Thailand
Berlokasi di kawasan KMUTT Bangkhuntien Science and Industrial Park, NBF dikembangkan sebagai salah satu infrastruktur utama Thailand untuk mendukung pengembangan industri biofarmasi. Fasilitas yang berada di taman sains dan teknologi universitas pertama di Thailand itu menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah setempat dalam membangun ekosistem farmasi yang lebih mandiri dan berdaya saing.
Selain memperkuat ketahanan pasokan vaksin nasional, NBF dirancang untuk mendukung pengembangan teknologi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor produk biologis. Selain itu, pembangunan infrastruktur itu juga bertujuan meningkatkan kapasitas manufaktur regional, serta memperluas kolaborasi internasional di bidang biofarmasi.
Thailand menggelontorkan investasi lebih dari US$ 80 juta atau sekitar Rp 1,45 triliun untuk membangun fasilitas, melengkapi peralatan, dan mengembangkan infrastruktur manufaktur di NBF.
Fasilitas itu diproyeksikan menjadi contract development and manufacturing organization (CDMO) milik negara pertama di Thailand yang menyediakan layanan pengembangan dan produksi produk biofarmasi berstandar GMP, baik untuk kebutuhan riset maupun uji klinis. NBF juga berfungsi sebagai pusat transfer teknologi dan peningkatan skala produksi demi mempercepat komersialisasi hasil penelitian.
Wakil Presiden KMUTT, Annop Nopharatana mengatakan, NBF dibangun tidak hanya sebagai pusat penelitian, tetapi juga sebagai infrastruktur strategis yang menghubungkan hasil riset dengan kebutuhan industri. Menurutnya, fasilitas tersebut diharapkan dapat mempercepat hilirisasi inovasi biofarmasi sekaligus memperkuat daya saing industri kesehatan Thailand.
”Hal ini juga memperkuat keamanan kesehatan Thailand, meningkatkan daya saing nasional, dan mendukung pertumbuhan berkelanjutan industri biofarmasi negara,” ucap Annop saat ditemui di kampus KMUTT, Bangkok, Selasa (7/7).
Wakil Presiden untuk Strategi Riset di KMUTT sekaligus Plt Direktur National Biopharmaceutical Facility, Warinthorn Songkasiri mengatakan, NBF menggenggam dua peran utama. Yang pertama sebagai fasilitas yang mendukung ketahanan vaksin nasional Thailand (National Vaccine Security Facility). Sementara yang lainnya sebagai penggerak ekosistem industri biofarmasi di Thailand maupun kawasan ASEAN.
Warinthorn mengatakan, NBF dibangun untuk memperkuat kapasitas riset, pengembangan, dan manufaktur produk biofarmasi. Sekaligus meningkatkan kesiapan Thailand dalam menghadapi tantangan kesehatan masyarakat di masa mendatang.
Ia mengatakan, NBF tidak hanya berfokus mendukung industri biofarmasi domestik, tetapi juga mengembangkan kapasitas sumber daya manusia, kapabilitas ilmiah, serta pemanfaatan teknologi terkini.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan sektor swasta, NBF diharapkan menjadi pusat pengembangan ekosistem biofarmasi yang terintegrasi sekaligus memperluas kerja sama riset dan industri di kawasan ASEAN.
Tiga Pusat Pengembangan Biofarmasi
NBF menyediakan infrastruktur yang mencakup seluruh tahapan pengembangan produk biofarmasi. Mulai dari penelitian hingga manufaktur. Fasilitas tersebut ditopang oleh tiga pusat unggulan (centers of excellence) yang memiliki fungsi berbeda dalam mendukung pengembangan industri.
Pusat pertama adalah Bioprocess Research and Innovation Center (BRIC) yang berfokus pada riset dan pengembangan bioproses. Fasilitas ini menangani optimalisasi proses produksi, peningkatan skala manufaktur, penyimpanan cell banking sesuai standar GMP, transfer teknologi, hingga pelatihan sumber daya manusia bagi industri biofarmasi.
Pusat kedua, Biopharmaceutical Characterization Laboratory (BPCL), beroperasi dengan standar ISO/IEC 17025dan menjadi laboratorium karakterisasi biofarmasi khusus pertama di kawasan Asia Tenggara. Laboratorium ini menyediakan pengujian dan analisis untuk memastikan kualitas produk biofarmasi sekaligus memenuhi persyaratan regulator.
Sementara itu, GMP Production Facility mendukung produksi biofarmasi skala pilot untuk kebutuhan riset klinis. Fasilitas ini dilengkapi kemampuan produksi berbasis teknologi mikroba, sel mamalia, dan single-use system, serta mendukung proses validasi hingga alih teknologi menuju produksi komersial.
Integrasi ketiga pusat tersebut memungkinkan NBF mendukung seluruh rantai nilai industri biofarmasi, mulai dari penelitian, pengembangan proses, pengujian kualitas, hingga produksi skala pilot sebelum memasuki tahap komersialisasi. Menurut pengelola NBF, model tersebut dirancang untuk mempercepat hilirisasi hasil riset sekaligus menjembatani kebutuhan antara lembaga penelitian dan industri.
Melalui ekosistem tersebut, Thailand juga berupaya memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, perusahaan bioteknologi, industri farmasi, dan mitra internasional. Pemerintah berharap pendekatan ini dapat mempercepat pengembangan produk biofarmasi, meningkatkan efisiensi transfer teknologi, serta memperkuat daya saing industri biofarmasi Thailand di tingkat regional.

