Pabrik Baterai EV CATIB Bakal Diresmikan di Momen Perayaan HUT RI Bulan Depan
Pabrik baterai kendaraan listrik milik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia (CATIB) di Karawang, Jawa Barat, dijadwalkan akan diresmikan dalam momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia bulan depan.
CATIB adalah perusahaan patungan antara PT Indonesia Battery Corporation (IBC) dan konsorsium yang dipimpin raksasa baterai asal Cina, Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL).
President Director PT IBC, Aditya F Arif mengatakan, pihaknya sudah mengusulkan tanggal peresmian, namun masih menunggu arahan lebih lanjut dari Presiden Prabowo Subianto. Menurut dia, peresmian pabrik tersebut rencananya berdekatan dengan launching Program Motor Listrik Nasional atau Molinas.
“Kemungkinan momennya akan berdekatan dengan launching Motor Listrik Nasional, jadi momennya mengambil momen 17 Agustus,” kata Aditya, saat ditemui di Kantor Katadata, Selasa (28/7).
Adapun terkait Program Molinas yang disebutkan Presiden Prabowo beberapa waktu lalu itu, Aditya menyebut telah mendapatkan mandat untuk mendukungnya.
“Program motor dan mobil listrik nasional kan program yang dicanangkan oleh pemerintah dan IBC memang mendapatkan mandat untuk mendukung, pada intinya itu,” ujarnya.
Produksi 2 Jenis Baterai
Pabrik baterai di Karawang akan memproduksi battery cells, module, dan pack, sekaligus battery energy storage system (BESS) untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik dan energi terbarukan di Indonesia. Untuk tahap awal, kapasitas produksi yang ditargetkan sebesar 6,9 GWh, lalu meningkat menjadi 15 GWh pada tahap kedua.
Proyek kerja sama IBC dan CATL yang juga dikenal dengan Proyek Dragon itu dirancang untuk memproduksi dua jenis baterai lithium-ion, yaitu nickel manganese cobalt (NMC) dan lithium-ion phosphate (LFP).
Baterai jenis LFP banyak dimanfaatkan untuk baterai kendaraan listrik, juga penyimpan energi untuk pembangkit listrik tenaga surya. Sementara, baterai NMC biasanya dimanfaatkan untuk kendaraan listrik premium, khususnya di negara empat musim.
Aditya tak menampik bahwa market untuk baterai NMC tengah mengalami tekanan atau kalah pamor dari LFP, namun Indonesia dibekali kekayaan nikel yang menurutnya sayang untuk dilewatkan.
“Nikel Indonesia itu nomor satu di dunia, jadi bukan langkah yang bijak kalau kita mengabaikan pemanfaatan nikel itu,” ujar dia.
IBC disebutnya terus mengembangkan teknologi untuk menjaga nikel agar tetap relevan ke depan. Di antaranya melalui pengembangan baterai sodium-ion dan baterai solid state.
“Kita kerjakan yang baru, contohnya solid state battery dan sodium-ion battery. Dengan sodium-ion battery, chance untuk nikel digunakan di energy storage system yang digunakan untuk mendukung solar PV dan seterusnya itu menjadi besar,” ucapnya.
Adapun produksi baterai LFP juga tidak bisa dilepaskan, mengingat share-nya yang cukup besar di pasar baterai. “Mau tidak mau kita perlu juga produksi LFP,” kata Aditya menambahkan.
