Jurus BTN (BBTN) Buka Jalan Desil 4–5 Punya Rumah, Tenor KPR 40 Bisa Tahun
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menyiapkan sejumlah strategi agar masyarakat kelompok desil 4–5 bisa memiliki rumah. Salah satunya melalui skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi dengan tenor hingga 40 tahun yang dapat menekan cicilan menjadi sekitar Rp 700 ribu–Rp 800 ribu per bulan.
Hal itu disampaikan dalam Danantara Housing Expo (DHE) 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, Banten, Kamis (27/8).
Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu mengatakan BTN menawarkan skema KPR dengan bunga mulai 2,75% dan tenor hingga 30 tahun dalam Danantara Housing Expo (DHE) 2026. Selain pembiayaan, BTN juga menghadirkan KPR subsidi dan nonsubsidi hingga akad massal sekitar 200 debitur.
“Kami membuat keterjangkauan dulu supaya orang yang tadinya tidak bankable bisa menjangkau rumah dengan cara memanjangkan tenor kredit,” jelasnya.
BTN juga masih menunggu kebijakan terkait KPR subsidi dengan tenor hingga 40 tahun. Apabila skema tersebut terealisasi, Nixon mengatakan angsuran diperkirakan dapat berada di kisaran Rp 700.000 hingga Rp 800.000 per bulan.
“Itu murah sekali, sehingga masyarakat yang tadinya masuk kelompok desil 4–5 bisa ikut membeli rumah ke depannya,” ucap Nixon.
Nixon mengatakan kelompok masyarakat desil 4–5 menjadi salah satu segmen yang berpotensi menikmati skema itu. Ia mengatakan perpanjangan tenor dapat menekan beban cicilan, alhasil lebih sesuai dengan kemampuan masyarakat.
“Supaya masyarakat yang tadinya nggak bisa memiliki rumah, maka dengan program-program yang kami lakukan hari ini, 2,75% bunga promo sampai 3 tahun fix, kemudian tenor 30 tahun diharapkan bisa membuat keterjangkauan masyarakat lebih tinggi,” ucap Nixon.
Sasar Generasi Muda
Di sisi lain BTN juga melihat skema KPR subsidi melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) menjadi salah satu pilihan bagi generasi muda. Menurut Nixon, membeli rumah dapat menjadi alternatif jika biaya cicilan berada di kisaran biaya sewa atau bahkan lebih rendah.
“Daripada mereka membayar sewa yang juga sekitar segitu atau bahkan di atas itu, lebih baik mereka membeli rumah,” kata Nixon.
Apalagi, keterbatasan lahan di Jakarta membuat pengembangan rumah tapak atau landed house semakin sulit. Nixon mengatakan BTN bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mengembangkan hunian berbasis transit oriented development (TOD) di kawasan Manggarai sebagai salah satu alternatif.
Tak hanya itu BTN akan mengembangkan apartemen di atas lahan sekitar 2–3 hektare yang terintegrasi dengan Stasiun Manggarai. Stasiun tersebut melayani KRL dan kereta api jarak jauh dan nantinya terhubung dengan LRT. Menurut Nixon, konsep ini menyasar generasi muda yang membutuhkan hunian dengan akses transportasi publik yang mudah.
Unit yang ditawarkan memiliki luas sekitar 40–50 meter persegi dengan harga yang dinilai masih terjangkau untuk kawasan Jakarta. Nixon menilai konektivitas transportasi dapat menekan biaya sekaligus memangkas waktu perjalanan penghuni.
BTN juga membuka peluang mengembangkan konsep serupa di kawasan stasiun lainnya setelah Manggarai. Sejumlah lokasi yang berpotensi menjadi pengembangan berikutnya antara lain kawasan Stasiun Jakarta Kota dan Jatinegara.
“Ke depannya, kita juga berharap lokasi-lokasi stasiun kereta itu bisa diperluas, tidak cuma di Manggarai, mungkin juga di Kota, Jatinegara, dan lain sebagainya,” tuturnya.
BTN selanjutnya akan membuka pendaftaran hunian Manggarai melalui aplikasi balé by BTN. Perseroan juga tengah menunggu kebijakan dari Tapera terkait KPR subsidi sebelum kapasitas pembiayaan tersebut dipasarkan.
