Rupiah Loyo ke 14.420/US$ Terseret Memburuknya Hubungan AS- Tiongkok
Nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,01% ke level Rp 14.408 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan di pasar spot pagi ini, Selasa (23/3). Rupiah terseret hubungan AS dan Tiongkok yang memburuk.
Mengutip Bloomberg, rupiah kian melemah ke posisi Rp 14.420 per dolar AS hingga pukul 10.00 WIB. Mayoritas mata uang Asia turut melemah terhadap dolar AS. Dolar Hong Kong turun 0,01%, dolar Singapura 0,02%, dolar Taiwan 0,09%, peso Filipina 0,07%, yuan Tiongkok 0,06%, dan baht Thailand 0,38%. Hanya yen Jepang yang menguat 0,07%, won Korea Selatan 0,01%, rupee India 0,19%, dan ringgit Malaysia 0,02%.
Analis Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan sentimen yang berpotensi menjadi beban untuk rupiah adalah memburuknya hubungan AS-Tiongkok. "Hal ini setelah pemerintahan Presiden AS Joe Biden memberikan sanksi terhadap dua pejabat Tiongkok," kata Faisyal kepada Katadata.co.id, Selasa (23/3).
Sanksi diberikan Biden terkait masalah hak asasi manusia terhadap etnis minoritas di Xinjiang. Kedua pejabat tersebut yakni Sekretaris Komite Partai Korps Produksi dan Konstruksi Xinjiang Wang Junzheng dan Direktur Biro Keamanan Umum Xinjiang Chen Mingguo.
Rupiah juga berpeluang terus melemah dalam jangka pendek seiring penguatan dolar AS dan tingkat imbal hasil atau yield obligasi AS yang bergerak naik. "Perkembangan tersebut di tengah outlook solidnya pertumbuhan ekonomi AS," ujar dia.
Saat berita ini ditulis, indeks dolar AS naik 0,11% ke level 91,85. Mata uang Negeri Paman Sam pun terlihat perkasa terhadap mayoritas mata uang utama seperti euro, pound inggris, dolar Australia, dolar Kanada, dan franc Swiss.
Adapun sentimen lainnya yang menjadi tekanan untuk kurs Garuda hari ini yaitu meningkatnya kasus Covid-19 di Eropa yang memicu penerapan kembali kebijakan lockdown di beberapa negara bagian. Hal tersebut berpotensi membuat pasar menjauhi aset berisiko yang termasuk rupiah. Dengan demikian, rupiah hari ini berpotensi bergerak pada rentang Rp 14.400-14.500 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memperkirakan,rupiah akan bergerak sideways yakni melemah pada awal pembukaan tetapi menguat menuju penutupan pasar. Ini terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian di pasar negara berkembang akibat langkah pemerintah Turki yang mencopot kepala Bank Sentralnya. Kebijakan pemerintah Turki tersebut membuat lira anjlok hingga 15%.
"Namun demikian, dampak pelemahan lira Turki cenderung terbatas dibandingkan dengan dampak pelemahan Lira Turki pada tahun 2018 lalu," ujar Josua kepada Katadata.co.id, Selasa (23/2).
Sementara itu, yield surat utang AS tercatat turun tiga basis poin ke level 1,69% pada Senin (22/3). Penurunan ini disebabkan oleh data US Home Existing Home Sales yang turun 6,6% secara bulanan ke level 6,22 juta. Ia pun memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp 14.350-14.450 per dolar AS pada hari ini.
