Rupiah Perkasa ke 14.334/US$ Berkat Sinyal The Fed soal Kenaikan Bunga
Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,18% ke level Rp 14.343 per dolar AS pada perdagangan pasar spot pagi ini. Pidato Powell akhir pekan lalu yang memberi sinyal bahwa The Federal Reserve masih akan menahan langkah kenaikan suku bunga mendorong penguatan nilai tukar regional, termasuk rupiah.
Mengutip Bloomberg, rupiah kian bergerak menguat ke posisi Rp 14.334 per dolar AS hingga pukul 10.20 WIB. Mayoritas mata uang Asia lainnya bergerak menguat. Yen Jepang menguat 0,05%, dolar Hong Kong 0,01%, dolar Singapura 0,04%, won Korea Selatan 0,09%, peso Filipina 0,07%, rupee India 0,56%, ringgit Malaysia 0,85% dan bath Thailand 0,35%. Sementara yuan Tiongkok melemah 0,05% bersama dolar Taiwan 0,01%.
Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah akan bergerakn menguat di kisaran Rp 14.330 hingga Rp 14.350 per dolar AS, dengan potensi resisten di kisaran Rp 14.400. Penguatan masih didorong respon pasar terhadap pernyataan Gubernur bank sentral AS (Fed) Jerome Powell akhir pekan lalu.
"Pasar rupanya masih menangkap pesan dovish dari pernyataan Jerome Powell bahwa bank sentral tidak akan terburu-buru menaikan suku bunga acuannya," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Selasa (31/8).
Powell hadir dan memberikan pidatonya pada simposium tahunan Jackson Hole yang dihelat pada Jumat (27/8) lalu. Dalam sambutannya, ia kembali menegaskan bahwa inflasi yang tinggi saat ini kemungkinan hanya bersifat sementara. Pernyataannya itu memberikan tendensi yang kuat kenaikan suku bunga kemungkinan masih akan jauh dari rencana bank sentral.
Rilis notulen rapat komite pasar terbuka federal (FOMC) pertengahan bulan ini yang menunjukkan bahwa pejabat bank sentral tampaknya masih menahan pembahasan kenaikan suku bunga hingga tahun depan. Beberapa pejabat masih beda pendapat perihal kapan tepatnya Fed harus menaikkan suku bunga. Sebagian sepakat dengan pernyataan Powell sebelumnya, namun beberapa juga menilai inflasi tinggi mungkin akan bertahan lebih lama sehingga berpeluang menimbulakn damapk terhadap ekonomi.
Powell juga kembali memperjelas arah kebijakan Fed terkait tapering off atau pengetatan stimulus khususnya pada pembelian obligasi pemerintah. Powell menyebut bank sentral berencana mengurangi pembelian US Treasury akhir tahun ini, kendati demikian masih belum jelas kapan waktu pastinya.
Dari dalam negeri, Ariston juga mengatakan potensi penguatan juga didorong oleh penanganan pandemi yang mulai membaik. Hal ini berbarengan dengan keputusan pemerintah memperluas pelonggaran mobilitas di wilayah pulau Jawa lainnya.
"Penguatan rupiah juga bisa didukung oleh situasi pandemi di dalam negri yang mulai terkendali dimana kasus baru menurun dan aktivitas ekonomi diperlonggar," kata Ariston.
Pemerintah kembali memperpanjang penerapan PPKM Level 1-4 di wilayah Jawa dan Bali hingga 6 September mendatang. Kendati demikian, sejumlah wilayah di pulau Jawa yang semula berada di level 4 mengalami penurunan menjadi level 3, diantaranya Malang Raya dan Solo Raya. Keputusan ini menambah banyak daftar daerah penting di wilayah Jawa yang mulai melakukan relaksasi, setelah sepekan terakhir Jabodetabek, Bandung Raya, Surabaya Raya dan Semarang Raya sudah lebih dulu turun ke level 3.
Satgas Covid-19 melaporkan, pada Senin (30/8) penambahan kasus positif harian tercatat 5.436 kasus, dengan jumlah pasien sembuh 19.396 pasien dan meninggal 568 orang. Laporan kasus positif harian domestik terus turun dalam beberapa minggu terakhir, jumlah positif harian kemarin juga tercatat sebagai yang terendah sejak 1 Juni 2021 dengan penambahan 4.824 kasus.
