Rupiah Diramal Melemah 14.400/US$ Tertekan Pengetatan Moneter The Fed
Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,01% ke level Rp 14.330 per dolar AS di pasar spot pagi ini. Namun rupiah berpotensi melemah di tengah masih kuatnya kekhawatiran pasar terhadap rencana pengetatan moneter The Fed.
Mengutip Bloomberg, rupiah berbalik melemah ke Rp 14.334 pada pukul 09.40 WIB, masih menguat dari posisi pentupan akhir pekan lalu di level Rp 14.350 per dolar AS.
Mayoritas mata uang Asia lainnya menguat pagi ini. Dolar Singapura dan Taiwan kompak menguat 0,01%, won Korea Selatan 0,04%, Peso Filipina 0,03%, rupee India 0,25%, yuan Cina 0,06% dan ringgit Malaysia 0,12%. Sementara bath Thailand melemah 0,28% bersama dolar Hong Kong 0,01% dan yen Jepang 0,11%.
Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah akan melemah ke arah Rp 14.400, dengan potensi penguatan di Rp 14.330 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah terutama datang dari kekhawatiran pengetatan moneter The Fed.
Rencana pengetatan moneter semakin menguat usai rilis data tenaga kerja AS yang menunjukkan perbaikan. "Hasil ini bisa mendukung percepatan kenaikan suku bunga acuan AS bulan Maret ini," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Senin (10/1).
Pemerintah Amerika melaporkan tingkat pengangguran pada Desember turun menjadi 3,9%. Ini merupakan level terendah sepanjang pandemi. Kinerja ini juga mendekati level Februari 2020 di 3,5% yang merupakan terendah dalam 50 tahun. Selain itu, capaian bulan lalu menunjukkan pemulihan yang berlanjut setelah angka pengangguran sempat meroket hingga 14,8% pada April 2020.
Meskipun tingkat pengangguran secara keseluruhan turun, pengangguran untuk orang kulit hitam melonjak selama bulan tersebut, naik menjadi 7,1% dari 6,5%. Tingkat pengangguran untuk wanita kulit putih 20 tahun dan lebih tua turun tajam menjadi 3,1% dari 3,7%.
Selain itu, pemerintah juga melaporkan jumlah tenaga kerja baru pada periode yang sama hanya bertambah 199 ribu, dari perkiraan Dow Jones 422 ribu. Penciptaan lapangan kerja baru ini terutama untuk sektor rekreasi dan perhotelan, jasa profesional, dan bisnis serta manufaktur.
Selain itu, pasar juga akan mencermati data inflasi konsumen AS pada Desember yang akan dirilis Rabu pekan ini. Pasar memperkirakan inflasi Desember tembus 7% secara year on year. Bila demikian, ini akan menambah dukungan untuk kenaikan suku bunga acuan AS.
Selain sentimen pengetatan moneter The Fed, Ariston mengatakan pelemahan rupiah juga dipengaruhi menngkatnya kekhawatiran terhadap penyebaran Omicron. Laporan kasus positif dunia terus meningkat, termasuk Indonesia di tengah penyebaran varian baru ini.
"Meskipun hanya menimbulkan gejala ringan, tapi tingkat penyebaran yang tinggi tetap diwaspadai pelaku pasar yang kemungkinkan menimbulkan gejolak di perekonimian," kata dia.
Jumlah kasus Covid-19 di Indonesia terus meningkat tajam dalam sepekan terakhir. Terdapat tambahan kasus sebanyak 529 pada Minggu (9/1), tertinggi sejak awal pekan lalu. Sebagian besar laporan kasus kemarin berasal dari Jakarta sebanyak 393 kasus.
Sementara itu, pemerintah juga melaporkan kasus Omicron bertambah menjadi 414 kasus pada Sabtu (8/1). Dari jumlah tersebut, 31 orang dilaporkan kasus transmisi lokal, sedangkan sisanya merupakan pelaku perjakanan luar negeri. Kasus transmisi lokal bertambah delapan orang dari laporan hari sebelumnya.
Senada dengan Ariston, analis pasar uang Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto juga memperkirakan rupiah akan melemah ke Rp 14.388 dengan potensi penguatan di Rp 14.323 per dolar AS. Pelemahan rupiah juga dipengaruhi sentimen eksternal.
"Perdagangan di awal pekan ini masih akan sangat terpengaruh oleh perkembangan global, terutama terus naiknya imbal hasil UST tenor 10 tahun," kata dia kepada Katadata.co.id
Tingkat imbal hasil alias yield US Treasury terus menanjak sejak awal tahun. Pada perdaganagn akhir pekan lalu, tingkat yield tenor 10 tahun menyentuh 1,76%, menunjukkan tiga hari beruntun berada di atas 1,6%. Kenaikan juga pada yield untuk tenor lainnya.
Sementara dari dalam negeri, menurut dia, masih belum banyak sentimen positif yang bisa menahan pelemahan rupiah.
