Rupiah Melemah Rp 14.376/US$ Terimbas Memburuknya Data Tenaga Kerja AS
Nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,05% ke level Rp 14.364 per dolar AS di pasar spot pagi ini. Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh rilis data ketenagakerjaan di Amerika Serikat (AS) yang memburuk akibat lonjakan kasus Covid-19.
Mengutip Bloomberg, rupiah melanjutkan pelemahan ke Rp 14.376 pada pukul 09.15 WIB. Ini semakin jauh dari posisi penutupan kemarin di Rp 14.357 per dolar AS.
Mata uang Asia lainnya bergerak bervariasi. Pelemahan juga dialami dolar Singapura 0,07% bersama dolar Taiwan 0,01%, won Korea Selatan 0,16%, peso Filipina 0,04%, rupee India 0,05% dan bath Thailand 0,12%.
Sementara yen Jepang menguat 0,11% bersama dolar Hong Kong 0,02%, yuan Cina 0,11% dan ringgit Malaysia 0,09%
Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah akan melemah di kisaran Rp 14.380, dengan potensi support di kisaran Rp 14.330 per dolar AS. Pelemahan rupiah terimbas rilis data tenaga kerja Amerika yang memburuk.
"Penurunan jumlah pekerjaan memicu sentimen negatif ke aset berisiko. Banyak analis berpendapat bahwa penurunan ini karena Omicron yang meluas yang mendorong penurunan aktivitas ekonomi," kata Ariston Kepada Katadata.co.id, Kamis (3/2).
Mengutip CNBC Internasional, laporan tenaga kerja sektor swasta yang dirilis Automatic Data Processing (ADP) menunjukkan adanya pengurangan 301 ribu tenaga kerja sepanjang bulan lalu.
Kenaikan kasus Omicron di Amerika tampaknya ikut memukul perekrutan tenaga kerja oleh banyak perusahaan.
Laporan tersebut mengindikasikan pemburukan dikarenakan jauh di bawah ekspektasi Dow Jones yang justru memperkirakan sektor usaha bisa menambah 200 ribu tenaga kerja baru pada bulan lalu.
Kinerja tersebut juga merupakan pembalikan tajam setelah bulan sebelumnya berhasil merekrut 776 tenaga kerja baru.
Sektor rekreasi dan perhotelan yang sangat sensitif dengan kenaikan kasus Covid-19 menyumbang lebih dari separuh penurunan jumlah tenaga kerja bulan lalu. Diikuti sekrot transportasi dan utilitas serta kategori jasa lainya.
Sementara dari dalam negeri, Ariston mengatakan tren kenaikan kasus Covid-19 di tengah meluasnya varian Omicron memberi sentimen koreksi ke rupiah.
"Kasus Omicron juga masih meninggi dan bisa berdampak negatif ke perekonomian. Apalagi bila ditambah dengan meningginya inflasi, daya beli yang menurun karena inflasi juga bisa mengganggu pemulihan ekonomi," ujarnya.
Pemerintah mengumumkan kasus corona RI bertambah 17.895 orang pada Rabu (2/2). Angka ini merupakan yang tertinggi sejak 25 Agustus 2021 lalu yakni 18.671 pasien baru.
Sebanyak 15.329 atau 85,6% dari total penularan yang dilaporkan hari ini berasal dari DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.
DKI Jakarta menyumbangkan kenaikan harian terbanyak yakni 9.132 pasien baru. Kasus di ibu kota bertambah hampir 43% dari hari sebelumnya.
Kasus Covid-19 yang terus melonjak berdampak terhadap keterisian tempat tidur (BOR) rumah sakit. Saat ini angka rasio BOR di Indonesia meningkat menjadi 13,8%, tertinggi berasal dari DKI Jakarta yakni 52%.
