Pemerintah Soroti Lonjakan Harga Komoditas Berefek Minim ke Investasi

Abdul Azis Said
21 Februari 2022, 19:17
harga komoditas, komoditas, investasi
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj.
Ilustrasi. Total outstanding cash emiten-emiten komoditas sepanjang Januari-September 2021 mencapai Rp 130,1 triliun, jauh di atas realisasi setahun penuh pada 2020 yang hanya Rp 88,2 triliun.

Pemerintah menyoroti efek kenaikan harga komoditas yang hingga kini belum berdampak positif pada investasi. Dalam sembilan bulan pertama tahun lalu, realisasi belanja modal 65 emiten berbasis komoditas justru turun dari Rp 28,2 triliun pada Januari-September 2019 menjadi Rp 23,9 triliun. 

Realisasi belanja modal tersebut juga lebih rendah dibandingkan belanja modal sebelum pandemi atau sepanjang tahun 2019 yang mencapai Rp 48 triliun. 

"Kami coba lihat lebih dalam sektor-sektor yang menikmati windfall dari kenaikan harga komoditas, outstanding cash-nya meningkat seiring kenaikan harga komoditas tetapi dari sisi capital expenditure (capex) cukup ironis, justru mengalami penurunan," kata Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Abdurohman dalam Diskusi Publik Forum Masyarakat Statistik (FMS): Kinerja Pertumbuhan Ekonomi di Masa Pandemi, Senin (21/2).

Di sisi lain, menurut Abdurrohman, outstanding cash perusahaan melonjak signifikan. Total outstanding cash emiten-emiten komoditas sepanjang Januari-September 2021 mencapai Rp 130,1 triliun, jauh di atas realisasi setahun penuh pada 2020 yang hanya Rp 88,2 triliun, bahkan lebih besar dibandingkan 2019 sebesar Rp 79,3 triliun.

Ia pun berkesimpulan, kenaikan harga komoditas pada tahun lalu mendorong korporasi berbasis komoditas mengakumulasikan keuntungannya dalam bentuk outstanding cash, tanpa diikuti kenaikan dari sisi investasi.

Kondisi ini berbeda dengan booming komoditas pada tahun 2011 yang diikuti dengan peningkatan pada belanja modal perusahaan.

"Ada peluang mendorong mereka naik (capex), tapi kami juga perlu waspada apakah ini menjadi semacam sitting dari perilaku investor setelah adanya pandemi," kata Abdurohman.

Dia mengatakan, pengusaha kemungkinan masih wait and see, menunggu potensi-potensi bisnis baru yang lebih menguntungkan dan berkelanjutan. Di sisi lain, perusahaan juga masih memantau kondisi makroekonomi yang lebih stabil.

Sejumlah komoditas memang mencatat kenaikan harga sepanjang tahun lalu. Kenaikan harga-harga ini mendorong moncernya kinerja ekspor sepanjang tahun lalu dan mendorong surplus jumbo pada neraca perdagangan. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca dagang tahun lalu mencapai US$ 35,34 miliar, naik dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$ 21,62 miliar. Lonjakan pada surplus tersebut didorong oleh realisasi ekspor yang tumbuh 41,8% menjadi US$ 231,5 miliar. Impor juga naik tetapi lebih rendah yakni 38,9% menjadi US$ 196,2 miliar.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...