Bappenas Optimistis Indonesia Jadi Negara Maju pada 2039
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2023 sebesar 5,3%. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menilai asumsi tersebut masih sejalan dengan target pemerintah untuk membawa Indonesia menjadi negara maju pada 2045.
Bappenas sebelumnya menghitung, butuh pertumbuhan rata-rata 6% bagi Indonesia agar bisa lepas dari jebakan negara pendapatan menengah menuju pendapatan tinggi atau negara maju pada 2043. Ini berarti sebelum Indonesia merayakan HUT ke 100. Dengan pertumbuhan lebih tinggi lagi rata-rata 7%, Indonesia bisa mencapainya pada 2039.
Deputi Bidang Ekonomi Amalia Adininggar menyebut target pertumbuhan 5,3% tahun depan masih sesuai lintasan menuju negara maju sekalipun perkiraannya di bawah 6%. "Yang penting kita akselerasi setelah 2023," kata Amalia Adininggar kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Rabu (24/8).
Bappenas optimis target pertumbuhan tersebut bisa lebih tinggi bahkan mencapai 5,9%. Apabila pertumbuhannya bisa mencapai 5,5%, realisasi tersebut juga dinilai masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir di 5%.
Pemulihan ekonomi pada tahun depan akan disiapkan sebagai fondasi untuk mengakselerasi pertumbuhan di tahun-tahun berikutnya lewat transformasi ekonomi. Apalagi Indonesia masih berada di era 'keemasan' dengan masih adanya bonus demografi.
Indonesia bisa tumbuh rata-rata 7%-8% per tahun jika bisa memaksimalkan bonus demografi tersebut. Dengan demikian Indonesia bisa menjadi negara maju lebih cepat yakni pada 2039 apabila rata-rata pertumbuhan tersebut bisa tercapai.
Target pertumbuhan tahun depan lebih tinggi dibandingkan perkiraan pertumbuhan tahun ini sebesar 5,2%.
Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menyebut Indonesia memiliki sisa waktu sedikit untuk bisa memanfaatkan bonus demografi dan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi hingga 2037. Selama 15 tahun ke depan, Indonesia perlu memanfaatkan kesempatan itu untuk tumbuh lebih tinggi sehingga bisa keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah.
"Setelah itu (2037), kita akan masuk ke generasi yang aging dengan tingkat produktivitasnya biasanya rendah. Biasanya kalau masuk aging itu pertumbuhan ekonominya flat dan ini yang kita khawatirkan," kata Suharso dalam rapat kerja dengan Komisi XI hari ini.
Sementara itu, Bappenas melihat sejauh ini pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di bawah kapasitasnya. Salah satu penyebabnya karena rasio Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia terhadap PDB masih di bawah besaran yang dibutuhkan. Ekspansi APBN ini bertujuan membantu pertumbuhan ekonomi.
Dia mengatakan, idealnya butuh APBN di atas 20% dari PDB bagi negara yang pertumbuhan ekonominya masih di bawah kapasitasnya. Namun, Suharso menyebut dalam 10 tahun terakhir rata-rata Indonesia hanya mengalokasikan 15%-16%.
"Akibatnya memang untuk mendorong masuk di basket pertumbuhan ekonomi potensialnya itu belum maksimal," kata Suharso.
Berdasarkan data Tradingeconomics, Vietnam tercatat sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di kawasan Asia Pasifik, yakni sebesar 7,72% (year on year/yoy) pada kuartal II 2022. Diurutan kedua, Indonesia dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,44% (yoy).
Berikutnya, Singapura dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,8% (yoy), kemudian Taiwan tumbuh 3,08% (yoy), Korea Selatan tumbuh 2,9% (yoy), Amerika Serikat tumbuh 1,6% (yoy).
