ADB Lihat Ekonomi Indonesia Lebih Cerah pada Tahun Ini

Abdul Azis Said
21 September 2022, 12:04
pertumbuhan ekonomi, ADB, ekonomi Indonesia, inflasi
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.
Ilustrasi. ADB melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik pada tahun ini, tetapi tekanan inflasi meningkat.

Bank Pembangunan Asia (ADB) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini dari ramalan sebelumnya sebesar 5,3% menjadi 5,4%. Namun, tekanan inflasi akibat kenaikan harga pangan dan energi diperkirakan meningkat mencapai 4,6%. 

ADB dalam outlook yang dirilis pada Juli memperkirakan inflasi Indonesia hanya akan mencapai 3,6% pada tahun ini. Lembaga ini pun memperkirakan tekanan kenaikan harga barang masih akan berlanjut tahun depan dengan inflasi diperkirakan mencapai 5,1%. 

"Permintaan dalam negeri tampaknya tetap kuat sepanjang sisa tahun ini meskipun inflasi lebih tinggi, demikian juga permintaan eksternal." dikutip dari laporan ADB, Rabu (21/9).

ADB melihat ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh votalitilitas di pasar keuangan yang meningkat dan perlambatan ekonomi dunia. Gelombang Covid-19 yang sempat terjadi dalam skala kecil ikut memberikan pengaruh. 

Menurut ADB, risiko-risiko ini  masih akan berlanjut hingga tahun depan, terutama di tengah pengetatan moneter global. Dalam laporan yang sama, ADB memangkas prospek ekonomi Indonesia pada tahun depan dari perkiraan sebelumnya 5,2% menjadi hanya 5%.

ADB melihat, konsumsi akan meningkat signifikan tahun ini sebagai pembalikan setelah tertahan karena pandemi. Namun laju konsumsi mulai mengalami normalisaai tahun depan.

"Konsumsi diproyeksikan tumbuh sebesar 6% pada tahun 2022, tetapi kembali pada tahun 2023 dengan tren pertumbuhan pra-pandemi sebesar 5%," kata ADB.

Ekonomi global yang melambat pada tahun depan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi domestik yang lebih rendah. Kondisi ini juga akan mengikis transaksi berjalan serta menjaga inflasi tetap tinggi.

Ekspor neto akan berkontribusi lebih kecil terhadap pertumbuhan seiring perlambatan ekonomi global. Ekspor barang kemungkinan akan tumbuh dengan kecepatan setengah tahun 2022. Pertumbuhan impor akan terus tumbuh sejalan dengan normalisasi permintaan.

Ekspor neto diperkirakan berkontribusi 1% terhadap pertumbuhan tahun ini, mirip dengan sumbangan pada tahun lalu. Efek perlambatan global sudah akan mulai terasa dengan ekspor yang akan mulai melambat di paruh kedua tahun ini menjadi 13%. Meski demikian, keseimbangan eksternal disebut masih akan surplus 0,5% PDB.

Konsumsi pemerintah dan investasi diperkirakan tidak akan berkontribusi secara signifikan terhadap pertumbuhan tahun ini dan tahun depan. Konsumsi pemerintah dalam neraca PDB diperkirakan terkontraksi sebesar 5% -10% di kedua tahun, ini sejalan dengan konsolidasi fiskal. Investasi diproyeksikan tumbuh hanya sekitar 5% -5,5% pada tahun ini dan tahun depan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...