Usai Melemah Beberapa Hari, Rupiah Berpotensi Menguat Hari Ini
Nilai tukar rupiah dibuka menguat 39 poin ke level Rp 15.228 per dolar Amerika Serikat di pasar spot pagi ini. Penguatan ditopang koreksi pada dolar AS setelah yield US Treasury juga menurun.
Mengutip Bloomberg, rupiah berbalik melemah dari posisi pembukaan ke Rp 15.231 pada pukul 09.20 WIB. Namun belum sampai menyentuh level penutupan kemarin di Rp 15.267 per dolar AS.
Beberapa mata uang Asia lainnya terpantau menguat terhadap dolar AS pagi ini. Won Korea Selatan rebound paling kuat 0,42% disusul dolar Taiwan yang juga menguat 0,11%, peso Filipina 0,08% dan yuan Cina 0,07%.
Sebaliknya, baht Thailand anjlok 0,96%, bersama ringgit Malaysia 0,36%, rupee India 0,44% , dolar Singapura 0,29%, dolar Hong Kong 0,01% dan yen Jepang 0,06%
Analis DCFX Lukman Leong memperkirakan rupiah bisa berbalik menguat setelah penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir. Kurs garuda diramal bisa bergerak menguat ke level Rp 15.150, dengan potensi pelemahan di Rp 15.250 per dolar AS.
"Rupiah diperkirakan akan rebound oleh koreksi tajam pada dolar dan imbal hasil obligasi AS," kata Lukman dalam risetnya, Kamis (29/9).
Indeks dolar di pasar spot turun ke 113,2 dari pemantauan pagi ini setelah kemarin sempat di atas 114. Imbal hasil alias yield US Treasury benchmark 10 tahun turun ke 3,7% kemarin, setelah mendekati 4% sehari sebelumnya.
Namun Lukman melihat rebound hari ini tidak akan signifikan. Pasalnya, investor juga masih menantikan inflasi harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS bulan Agustus yang diperkirakan naik.
"Kenaikan inflasi PCE bisa kembali memunculkan kekhawatiran akan kebijakan suku bunga yang ketat dari The Fed," kata Lukman.
Berbeda, analis PT Sinarmas Futures Ariston Tjendra memperkirakan rupiah melanjutkan pelemahan hari ini, dan berpotensi menyentuh Rp 15.300, dengan potensi support di kisaran Rp 15.200 per dolar AS.
Pelemahan hari ini masih terkait dampak kenaikan bunga The Fed dan komentar hawkish sejumlah petinggi bank sentral. Namun penurunan yield US Treasury bisa mendorong pelemahan dolar AS dan menjadi sentimen positif bagi rupiah.
"Dari dalam negeri, sentimennya masih soal kekhawatiran inflasi dan perlambatan pertumbuhan karena suku bunga tinggi," kata Ariston dalam risetnya.
