BI Proyeksi Pertumbuhan RI 4,7%-5,5% di 2024, Ini Faktor Pendorongnya

 Zahwa Madjid
21 Maret 2024, 10:46
BI, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, pertumbuhan ekonomi
Katadata
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (ketiga dari kiri).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Indonesia sepanjang 2024 akan tumbuh 4,7% hingga 5,5%. Faktor pendorong utamanya adalah permintaan domestik, baik konsumsi rumah tangga dan investasi. 

Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan sepanjang tahun ini investasi pada bangunan lebih tinggi dari prakiraan. Hal ini ditopang oleh berlanjutnya proyek strategis nasional (PSN) di sejumlah daerah dan berkembangnya sektor properti swasta.

“Konsumsi rumah tangga dan investasi nonbangunan tetap terjaga, meskipun perlu terus didorong untuk mendukung berlanjutnya pemulihan ekonomi nasional,” ujar Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur, Rabu (20/3).

Ia berpendapat membaiknya permintaan domestik tecermin pada sejumlah indikator, seperti indeks keyakinan konsumen, indeks penjualan riil, dan indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur yang berada di zona optimis.

“Ekspor barang diperkirakan belum kuat seiring penurunan permintaan dari negara mitra dagang utama, khususnya untuk komoditas minyak sawit mentah, besi baja, dan batu bara, sedangkan ekspor jasa, khususnya pariwisata, tumbuh kuat,” ujarnya.

Pertumbuhan Ekonomi Dunia 2024

Secara global, BI melihat pemulihan ekonomi global akan terus berlanjut, di tengah ketidakpastian pasar keuangan yang masih tinggi. Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2024 diperkirakan mencapai 3,0%.

“Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) tetap kuat ditopang oleh permintaan domestik. India juga tumbuh lebih baik dari prakiraan didukung oleh investasi pemerintah dan swasta,” ujarnya.

Untuk prospek ekonomi Cina, menurut bank sentral, belum kuat. Angka pertumbuhannya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya karena didorong peningkatan stimulus fiskal.

Dari sisi harga komoditas, peningkatan akan didorong oleh naiknya biaya angkut karena ketegangan geopolitik dan ketatnya pasokan akibat faktor cuaca. “Berbagai perkembangan tersebut mengakibatkan laju penurunan inflasi global tertahan, dengan inflasi di negara maju masih di atas targetnya,” ujarnya.

BI masih optimistis suku bunga bank sentral AS, Fed Funds Rate (FFR), diperkirakan baru turun pada semester kedua 2024. Ketidakpastian pasar keuangan global masih tinggi tecermin pada imbal hasil atau yield US Treasury yang meningkat sejalan dengan premi risiko jangka panjang dan inflasi yang masih di atas prakiraan pasar.

“Perkembangan ini mendorong berlanjutnya penguatan dolar AS secara global, lebih terbatasnya aliran masuk modal asing, dan meningkatnya tekanan pelemahan nilai tukar di negara emerging market,” ujarnya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Zahwa Madjid
Editor: Sorta Tobing

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...