Bos BI Perkirakan The Fed Hanya Turunkan Suku Bunga Sekali pada 2025

Rahayu Subekti
19 Februari 2025, 17:09
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua dari kiri) dan jajaran deputi mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan Februari 2025 di Gedung BI, Jakarta, Rabu (19/2).
Katadata/Rahayu Subekti
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kedua dari kiri) dan jajaran deputi mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan Februari 2025 di Gedung BI, Jakarta, Rabu (19/2).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan ekonomi Amerika Serikat membaik namun inflasinya masih tinggi dibandingkan tahun lalu. Berdasarkan kondisi itu, bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan memangkas suku bunga sekali sebesar 25 basis poin pada 2025.

“Itu pun baru terjadi pada awal semester II 2025,” kata Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur Bulanan BI Februari 2025 di Jakarta, Rabu (19/2).

Pertumbuhan ekonomi dan inflasi AS yang tinggi berdampak pada ekspektasi penurunan Fed Funds Rate (FFR) yang lebih terbatas. Menurut dia, kebijakan fiskal AS yang lebih ekspansif mendorong imbal hasil atau yield surat utang AS (US Treasury) tetap tinggi.

Kondisi itu menyebabkan besarnya preferensi investor global untuk menempatkan portofolionya ke AS. Indeks mata uang dolar AS juga masih tinggi dan menekan berbagai mata uang dunia.

“Ketidakpastian global yang tetap tinggi terus memerlukan respons kebijakan yang kuat sehingga dapat memitigasi dampak rambatannya untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” ujar Perry.

Perry mengungkapkan saat ini divergensi ekonomi dunia masih terus berlanjut dengan ketidakpastian global yang tetap tinggi. Perekonomian AS masih akan kuat ditopang oleh konsumsi rumah tangga, seiring upah dan produktivitas yang tinggi serta perbaikan investasi.

Untuk ekonomi Eropa, Cina, dan Jepang masih lemah. Perry menyebut, hal ini dipengaruhi permintaan domestik yang belum kuat serta kinerja eksternal yang menurun sejalan dengan perekonomian global yang melambat dan dampak dari implementasi kenaikan tarif impor oleh AS.

Di sisi lain, ekspansi ekonomi India juga tertahan. “Ini akibat proses konsolidasi fiskal dan investasi yang belum kuat. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi dunia pada 2025 mencapai 3,2%,” ucap Perry.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti
Editor: Sorta Tobing

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...