Rupiah Diprediksi Melemah Karena The Fed Akan Tahan Suku Bunga Lebih Lama

Ringkasan
- Notulen rapat The Fed menunjukkan penundaan penurunan suku bunga, berpotensi menekan nilai tukar rupiah.
- Pelemahan rupiah diperkirakan berlanjut di kisaran Rp 16.250 hingga Rp 16.450 per dolar AS karena ekspektasi positif perdamaian Rusia-Ukraina yang dapat menurunkan harga energi dan inflasi global.
- Ariston Tjendra memperkirakan pelemahan rupiah akibat penahanan suku bunga The Fed dan kebijakan tarif Trump, dengan potensi pelemahan di kisaran Rp 16.380 per dolar AS.

Rilis notulen rapat kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) pada dini hari tadi menunjukkan bahwa penurunan suku bunga acuan kemungkinan akan ditunda lebih lama. Kondisi ini berpotensi terus menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, memproyeksikan pelemahan rupiah dapat berlanjut di rentang Rp 16.250 hingga Rp 16.450 per dolar AS pada hari ini.
Fikri juga menyebutkan faktor global lainnya, seperti ekspektasi positif terhadap perdamaian Rusia-Ukraina, dapat berdampak pada penurunan harga energi dan inflasi global.
"Artinya, masih ada ruang tambahan untuk penurunan suku bunga The Fed satu kali lagi," kata Fikri kepada Katadata.co.id, Kamis (20/2).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah pada level Rp 16.347 per dolar AS pada pukul 09.10 WIB. Level ini mengalami penurunan sebesar 23 poin atau 0,14% dibandingkan dengan penutupan sebelumnya.
Menanti Data Inflasi dan Tenaga Kerja AS
Pengamat pasar uang, Ariston Tjendra, juga memperkirakan pelemahan rupiah masih akan berlanjut. Ia menyoroti bahwa risalah Federal Open Market Committee (FOMC) Januari 2025 yang menunjukkan keinginan Bank Sentral AS untuk menahan suku bunga acuan lebih lama.
“Keputusan ini diambil sambil menunggu data terbaru seperti inflasi, tenaga kerja AS dan dampak kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Pejabat The Fed mengisyaratkan kesulitan dalam menurunkan inflasi ke target 2%,” kata Ariston.
Selain itu, kebijakan tarif Trump, turut memberikan sentimen negatif ke pasar, yang tercermin dari pergerakan indeks saham Asia yang cenderung melemah pada pagi ini.
Dari dalam negeri, Ariston menilai ada spekulasi pasar terkait pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia akibat inflasi yang rendah. Selain itu, pengurangan anggaran belanja negara juga berpotensi menekan bisnis lokal sehingga dapat memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
“Potensi pelemahan rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran Rp 16.380 per dolar AS, dengan level support sekitar Rp 16.290 per dolar AS pada hari ini,” ujar Ariston.