BI Catat Kewajiban Neto Posisi Investasi Internasional RI Turun Jadi US$ 257,9 M
Bank Indonesia melaporkan posisi investasi internasional Indonesia pada sepanjang tahun lalu mencatatkan kewajiban neto sebesar US$ 245,3 miliar, turun dibandingkan akhir 2023 sebesar US$ 257,9 miliar. Penurunan kewajiban neto ini didorong oleh kenaikan aset finansial luar negeri atau AFLN sebesar US$ 37,5 miliar, lebih tinggi dibandingkan kenaikan kewajiban finansial luar negerti atau KFLN sebesar US$ 24,9 miliar.
Kepala Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, posisi investasi internasional Indonesia secara keseluruhan pada tahun lalu terjaga sehingga dapat mendukung ketahanan eksternal. “Hal ini tecermin dari perbaikan rasio net kewajiban PII Indonesia terhadap PDB dari 18,8% pada 2023 menjadi 17,6% pada tahun 2024,” ujar Denny dalam siaran pers, Senin (10/3).
Ia menjelaskan, kenaikan posisi AFLN didorong oleh seluruh komponen, baik investasi langsung, investasi portofolio, investasi lainnya, hingga posisi cadangan devisa. Sementara itu, kenaikan posisi KFLN terutama dipengaruhi oleh aliran masuk modal asing dalam bentuk investasi langsung, investasi portofolio, dan investasi lainnya.
BI juga melaporkan, kewajiban neto posisi investasi internasional atau PII Indonesia pada kuartal IV 2024 turun dari US$ 270,4 miliar pada kuartal sebelumnya menjadi US$ 245,3 miliar pada kuartal III 2024. Penurunan kewajiban neto itu juga dipengaruhi oleh kenaikan posisi Aset Finansial Luar Negeri atau AFLN. Begitu juga dengan penurunan posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN).
BI melaporkan, posisi AFLN pada akhir triwulan IV 2024 tercatat US$ 522,8 miliar, naik 0,6% dibandingkan kuartal sebelumnya yang tercatat US$ dari 519,7.
“Peningkatan posisi AFLN tersebut dipengaruhi oleh kenaikan penempatan aset terutama dalam bentuk cadangan devisa, diikuti oleh investasi langsung dan investasi portofolio,” kata Denny.
Sementara itu, BI juga melaporkan posisi KFLN Indonesia pada akhir kuartal IV 2024 turun 2,8% menjadi US$ 768,1 miliar dari US$ 790,0 miliar pada kuartal sebelumnya. Penurunan posisi KFLN tersebut dipengaruhi oleh transaksi investasi portofolio yang mencatat aliran modal keluar seiring ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.
Ia menambahkan, investasi langsung dan investasi lainnya tetap membukukan aliran modal masuk. “Ini mencerminkan terjaganya optimisme investor terhadap prospek ekonomi dan iklim investasi domestik,” ucapnya.
