Trump Tunda Tarif Tinggi ke Puluhan Negara, Cina Tetap Kena 125%

Agustiyanti
10 April 2025, 06:41
trump, tarif , cina, perang dagang
Youtube/Joint Congressional Committee on Inaugural Ceremonies
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan amandemen terhadap kebijakan tarifnya harus dilakukan karena orang-orang "menjadi marah".
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan jeda 90 hari bagi negara-negara yang terkena tarif AS yang lebih tinggi, kecuali dengan Cina. Perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia ini tetap meningkat, dengan AS tetap mengenakan tarif hingga 125% atas barang-barang asal Cina. 

Dalam perubahan kebijakan yang dramatis, hanya beberapa jam setelah pungutan terhadap sekitar 60 mitra dagang Amerika diberlakukan, Trump mengatakan telah mengesahkan tarif timbal balik yang diturunkan menjadi sebesar 10%" secara universal untuk membuka ruang  negosiasi lebih lanjut.

Namun pada saat yang sama, Trump tetap meningkatkan tarif terhadap barang-barang asal Cina hingga mencapai 125%. Ia menuduh Beijing "kurang hormat" setelah negara itu membalas dengan mengatakan akan mengenakan tarif sebesar 84% atas impor dari AS.

Ini terjadi seminggu setelah Trump mengumumkan pajak impor pada semua barang yang masuk ke AS, dalam pergolakan perdagangan internasional terbesar dalam beberapa dekade.

Trump berencana menetapkan tarif dasar sebesar 10% pada semua impor, yang kini diberlakukan. Namun, ia semula membebani tarif yang lebih tinggi pada negara mitra dagang yang oleh Gedung Putih digambarkan sebagai "pelanggar terburuk" atas perdagangan yang tidak adil versi Trump.

Tarif yang lebih tinggi ini, antara lain akan diterapkan kepada  27 negara anggota Uni Eropa, Vietnam, Afrika Selatan, Indonesia, dan masih banyak lagi. Impor dari negara-negara ini  akan terkena tarif AS mulai dari 11% hingga lebih dari 100%.

Kekacauan pasar yang besar menyusul pengumuman Trump minggu lalu, dengan aksi jual yang memicu kerugian triliunan dolar di seluruh dunia. Banyak warga Amerika mengkhawatirkan kenaikan harga dan beberapa analis memperkirakan meningkatnya kemungkinan terjadinya resesi.

Sebelum Trump mengatakan akan menangguhkan tarif yang lebih tinggi pada barang-barang dari negara-negara selain China, suku bunga utang pemerintah AS melonjak menjadi 4,5% - level tertinggi sejak Februari

Beberapa jam kemudian, ketika perubahan diumumkan, saham AS meroket dengan S&P 500 melonjak 7% dalam perdagangan sore. Kemudian, perdagangan harian ditutup naik 9,5%, sementara Dow Jones melonjak 7,8%.

Saat mengumumkan versi terbaru rencananya di Truth Social, Trump mengatakan dia mengizinkan penghentian sementara tarif selama 90 hari bagi negara-negara yang tidak membalas pungutannya.

Namun, tarif tambahan terhadap Beijing, katanya, akan berlaku segera. "Pada suatu saat, mudah-mudahan dalam waktu dekat, Cina akan menyadari bahwa hari-hari merampok Amerika Serikat dan Negara-negara lain tidak lagi dapat dipertahankan atau diterima," tulisnya.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan perubahan kebijakan ini tidak dipengaruhi oleh kemerosotan global. Berbicara di luar Gedung Putih, Trump kemudian mengatakan amandemen terhadap kebijakan tarifnya harus dilakukan karena orang-orang "menjadi marah".

"Saya memberikan jeda selama 90 hari bagi orang-orang yang tidak membalas karena saya katakan kepada mereka 'jika kalian membalas, kami akan menggandakannya' - dan itulah yang saya lakukan terhadap Tiongkok," katanya. 

Kebuntuan yang sedang berlangsung antara Tiongkok dan AS - dua ekonomi terbesar dunia - dimulai ketika Trump mengumumkan tarif baru minggu lalu.

Cina dikenakan tarif tambahan sebesar 34%, di atas pungutan sebesar 20% yang telah ditetapkan presiden awal tahun ini. Namun, Beijing segera membalas dengan mengenakan tarif sebesar 34% atas impor AS ke Cina.

Sebagai tanggapan, Trump mengancam akan menaikkan tarif tambahan sebesar 50%, sehingga totalnya menjadi 104% pada hari Selasa, jika Beijing tidak mundur. Tiongkok tidak mengubah arah dan mengatakan akan "berjuang sampai akhir" jika AS "bersikeras memprovokasi perang tarif atau perang dagang".

Hanya beberapa jam setelah tarif 104% dari AS berlaku sebelumnya, Beijing mengumumkan akan menaikkan tarifnya sendiri atas barang-barang Amerika dari 34% menjadi 84% mulai Kamis (10/4).

Menteri Luar Negeri Cina Lin Jian mengatakan pada hari Rabu bahwa AS terus mengenakan tarif terhadap Cina dengan cara yang kasar.  Ia mengatakan Cina menentang "praktik intimidasi" seperti itu dan AS harus menunjukkan "sikap kesetaraan, saling menghormati, dan timbal balik" jika berharap dapat menyelesaikan masalah melalui negosiasi.

Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO memperkirakan, memburuknya hubungan antara kedua negara dapat menyebabkan perdagangan barang mereka turun sebanyak 80% atau US$466 miliar.

"Penilaian kami, yang didasarkan pada perkembangan terkini, menyoroti risiko substansial yang terkait dengan eskalasi lebih lanjut," kata Dr. Ngozi Okonjo-Iweala, kepala WTO.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...