Perundingan FTA Indonesia - Eurasia Dikebut, Buka Peluang Ekspor Baru
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan perundingan perjanjian dagang bebas atau FTA dengan negara di wilayah Eurasia rampung pada paruh pertama. Hal ini diharapkan menjadi peluang baru ekspor di tengah perang dagang.
Kawasan Eurasia terdiri dari Armenia, Kyrgyzstan, Uzbekistan, Azerbaijan, Rusia, Georgia, Tajikistan, Kazakhstan, dan Turkmenistan. Airlangga menyampaikan ada tiga jenis perjanjian yang masuk dalam Indonesia - Eurasia FTA, yakni tarif, tindakan non-tarif, dan jaminan investasi.
"Presiden meminta agar perundingan Indonesia - Eurasia FTA komplit pada paruh pertama," kata Airlangga di Jakarta Pusat, Senin (14/4).
Akan tetapi, Airlangga menilai Indonesia - Eurasia FTA baru akan terbit setelah Juni. Alasannya, proses legal scraping yang membutuhkan pembahasan rinci dan waktu yang panjang. Oleh karena itu, ia belum dapat memastikan kapan Indonesia - Eurasia dapat berlaku.
Perundingan Indonesia - Eurasia FTA dimulai pada 6 Desember 2022. Perundingan ini resmi diluncurkan oleh Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan dan Anggota Dewan Kementerian Perdagangan Eurasia Andrey Slepnev pada Senin, 5 Desember 2022 secara daring.
Zulkifli mengatakan perundingan merupakan salah satu upaya Indonesia memperluas pasar ekspor nontradisional, Khususnya ke negara-negara di kawasan Eurasia yang terdiri atas Rusia, Armenia, Belarusia, Kazakhstan, dan Kyrgyzstan.
“EAEU adalah kawasan dengan perekonomian yang kuat dan potensi pasar yang besar di wilayah Eurasia utara. Indonesia memandang EAEU sebagai mitra dagang yang penting,” kata Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan pada 2022.
Zulkifli mengatakan inisiatif perjanjian dagang ini mencakup perdagangan barang, aturan untuk memfasilitasi perdagangan, serta kerja sama ekonomi. “Perjanjian yang disepakati harus berperan sebagai mesin pertumbuhan, produktivitas, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan,” ujar dia.
Akan tetapi, ekspor Indonesia ke Uni Ekonomi Eurasia US$ 1,1 miliar pada 2023. Sementara itu, impor Indonesia dari Uni Ekonomi Eurasia US$ 2,7 miliar.
Produk ekspor Indonesia ke Uni Ekonomi Eurasia pada 2023 didominasi minyak sawit, kopra, perangkat televisi, serta mesin dan peralatan listrik. Produk impor utama yakni batu bara, pupuk, produk setengah jadi besi baja bukan paduan, dan gandum.
