Rupiah Berpotensi Melemah Imbas Perang Tarif dan Perlambatan Ekonomi Global
Sejumlah analis memproyeksikan rupiah akan kembali tertekan terhadap dolar AS pada hari ini. Pengamat pasar uang Ariston Tjendra menyebut pelemahan rupiah disebabkan kekhawatiran pasar terhadap dampak perang tarif global yang dapat memperlambat ekonomi.
“Rupiah masih berpotensi melemah karena sentimen perang tarif,” kata Ariston kepada Katadata.co.id, Rabu (16/4).
Meskipun Presiden AS Donald Trump menyatakan telah memberikan relaksasi tarif untuk sebagian negara, kekhawatiran pasar tetap tinggi. Terutama karena potensi aksi balasan dari Cina dan negara lain terhadap AS.
“Rupiah masih berpotensi melemah dengan potensi ke arah Rp 16.860 per dolar AS, dengan potensi support di kisaran Rp 16.750 per dolar AS,” ujarnya.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.20 WIB, rupiah dibuka melemah di level Rp 16.846 per dolar AS. Posisi ini turun 19,50 poin atau 0,12% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Sementara itu, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan rupiah akan bergerak terbatas atau konsolidatif terhadap dolar AS.
“Rupiah masih tertekan oleh kekhawatiran perang tarif dan data ekonomi domestik yang lemah, dengan data pada hari Selasa menunjukkan penurunan penjualan mobil dan tingkat kepercayaan konsumen,” katanya.
Meski begitu, Lukman menilai data ekonomi Cina yang dirilis baru-baru ini dapat memberi sentimen positif bagi rupiah. Ia memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 16.750 hingga Rp 16.850 per dolar AS.
