Daftar Tawaran Indonesia untuk Amerika saat Negosiasi soal Tarif Impor
Pemerintah mengirimkan tim untuk bernegosiasi dengan Pemerintah Amerika terkait tarif impor dan resiprokal alias timbal balik. Berikut daftar poin penawarannya.
Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu dengan Ambassador Jamieson Greer dari United States Trade Representative alias USTR, guna melanjutkan progres negosiasi tarif resiprokal AS.
Airlangga Hartarto menjelaskan USTR menjadi lembaga terdepan yang bertanggung jawab mengoordinasikan kebijakan perdagangan internasional Amerika dan tarif komoditas. USTR merupakan negosiator perdagangan utama untuk AS dalam semua perjanjian perdagangan dan investasi bilateral, regional, dan multilateral.
“Oleh karena itu, USTR menjadi pihak Amerika pertama yang akan didatangi oleh perwakilan semua negara dalam melakukan negosiasi tarif,” kata Airlangga dalam keterangan pers, Jumat (18/4).
Dalam pertemuan dengan Ambassador Jamieson Greer, Airlangga menyampaikan tawaran dan permintaan dari Pemerintah Indonesia untuk merespons kebijakan tarif perdagangan Amerika, di antaranya:
- Berupaya menyeimbangkan defisit perdagangan Amerika dengan meningkatkan impor atau pembelian barang dari negara ini. Caranya sebagai berikut:
- Indonesia dapat meningkatkan pembelian barang dari Amerika misalnya, produk pertanian seperti kedelai dan gandum
- Merealokasi negara asal impor untuk produk yang dibutuhkan di Indonesia misalnya, minyak dan gas alias migas
- Mengoptimalkan kerja sama di bidang mineral kritis
- Mendorong investasi strategis dengan skema business to business atau btob
- Pemerintah Indonesia juga berharap Amerika menurunkan tarif impor dari Indonesia, khususnya terhadap 20 produk utama. Sebab, selama ini tarif impor Indonesia lebih tinggi dari beberapa negara kompetitor.
Airlangga mencontohkan produk garmen yang sudah terkena tarif impor 10% – 37% sebelum pengumuman Trump. Maka, dengan pengenaan tarif impor minimal 10%, besarannya menjadi 20% - 47%.
- Memfasilitasi perusahaan-perusahaan Amerika yang beroperasi di Indonesia dalam hal perizinan dan insentif. Tim deregulasi akan segera dibentuk untuk membahas perizinan dan insentif yang akan diberikan. Pemberian fasilitas ii bertujuan memberi kemudahan berusaha alias ease of doing business dan meningkatkan daya saing Indonesia.
- Memperlancar prosedur dan proses impor untuk produk asal Amerika
- Memperkuat kerja sama pendidikan, sains, ekonomi digital, dan layanan jasa keuangan
- Penetapan tarif yang lebih rendah ketimbang negara kompetitor, atas produk ekspor utama yang tidak akan bersaing dengan industri dalam negeri di Amerika seperti garmen, alas kaki, tekstil, furnitur, dan udang
Menko Perekonomian menyampaikan, Ambassador Greer merespons sangat positif penawaran dan permintaan yang disampaikan Indonesia. Selain itu, menyepakati untuk membahas secara teknis antara Tim Teknis dari Indonesia dengan pihak USTR.
Secara khusus, Ambassador Greer menugaskan Assistant USTR for Southeast Asia and the Pacific Sarah Ellerman untuk mengoordinasikan pembahasan teknis dengan Indonesia.
Kedua pihak menyepakati segera membahas secara intensif dan menargetkan untuk dapat menyelesaikan negosiasi dan pembahasan kerja sama bilateral Indonesia dengan Amerika dalam waktu 60 hari ke depan.
Sebagai langkah konkret, Sarah Ellerman langsung mengundang tim teknis Indonesia pada Jumat (18/4) untuk langsung membahas mengenai format, mekanisme, dan jadwal negosiasi. Indonesia pun menjadi salah satu negara yang mendapat kesempatan lebih awal untuk melakukan negosiasi kebijakan tarif resiprokal Amerika.
Airlangga menyampaikan USTR mengapresiasi langkah strategis yang diambil oleh Pemerintah Indonesia, terutama terhadap gestur penyesuaian regulasi domestik mengenai kegiatan ekspor dan impor.
“Kami sangat mengapresiasi langkah yang ditawarkan Indonesia. Saat ini AS berfokus pada perluasan pasar dan penguatan ekonomi dalam negeri, dan kami melihat peluang yang besar untuk bekerja sama dengan Indonesia,” ujar Ambassador Greer.
