The Fed Tahan Suku Bunga Acuan, Awasi Dampak Kebijakan Tarif Trump
Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve, mengumumkan untuk mempertahankan suku bunga acuan sebesar 4,25%-4,5% pada Rabu (7/5) waktu setempat. Namun, The Fed mengatakan risiko inflasi telah bergerak lebih tinggi dan pengangguran meningkat.
Komite Pasar Terbuka Fed menyatakan perekonomian secara keseluruhan terus berkembang dengan kecepatan yang solid. "Pasar tenaga kerja juga tetap solid dan inflasi masih agak tinggi," kata Ketua The Fed, Jerome Powell, seperti dikutip dari Reuters, Kamis dini hari (8/5).
Powell mengatakan ketidakpastian tentang prospek ekonomi telah meningkat lebih jauh, Meskipun demikian, ekonomi masih dalam posisi yang solid. Kebijakan moneter saat ini membuat The Fed berada dalam posisi yang baik untuk merespons secara tepat waktu terhadap perkembangan ekonomi potensial.
Powell juga mencatat kebijakan tarif Trump tetap menjadi sumber ketidakpastian. Kondisi ini menegaskan perlunya The Fed untuk berada dalam mode menunggu dan melihat.
"Saya rasa kita tidak dapat mengatakan... ke arah mana ini akan terjadi. Saya rasa ada banyak ketidakpastian tentang, misalnya, di mana kebijakan tarif akan berakhir," ujarnya.
Harga saham AS sempat memperpanjang kenaikan setelah rilis pernyataan Fed sebelum berbalik turun. Imbal hasil Treasury turun.
Kepala Investasi Publik di Goldman Sachs Asset Management, Asish Shah, mengatakan untuk saat ini The Fed tetap dalam pola bertahan sambil menunggu ketidakpastian mereda. "Data pekerjaan baru-baru ini yang lebih baik dari yang dikhawatirkan telah mendukung sikap bertahan Fed, dan tanggung jawabnya ada pada pasar tenaga kerja untuk melemah secara memadai guna memulai kembali siklus pelonggarannya," ujarnya.
Suku bunga kebijakan Fed tidak berubah sejak Desember karena para pejabat berjuang untuk memperkirakan dampak tarif impor Presiden Donald Trump. Kebijakan itu telah meningkatkan prospek inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat tahun ini.
